LOGICO untuk pembelajar Kinestetik Mendapatkan Banyak Penghargaan Internasional

Logico, buku berkualitas yang telah mendapatkan banyak penghargaan internasional.

Manfaat Logico diantaranya adalah untuk menunjang pembelajar kinestetik

Increase The Processing Speed of Your Child Brain

Logico yang hadir di indonesia terdiri dari 3 jenjang

Logico Primo untuk jenjang usia 3-6 th, Logico Piccolo untuk 5-10th, Maximo untuk 8-12th

Maksimalkan Potensi Gemilang Buah Hati Dengan Logico

Ingin anak pintar, hadiahkan Logico untuk ulang tahunnya... Otak cemerlang,masa depan gemilang!

Ingin Anak Kinestetik Betah Belajar?

Siapkan Logico dan rasakan sensasi Belajarnya...

Selasa, 01 Agustus 2017

GAYA BELAJAR KINESTETIK

GAYA BELAJAR KINESTETIK




Tipe Kinestetik adalah tipe gaya belajar yang cenderung mudah menerima dan mengolah informasi melalui serangkaian aktivitas yang menggerakkan sebagian / seluruh anggota tubuh dan mempraktekkan hal-hal yang dipelajari. Secara spesifik tipe gaya belajar ini dibagi lagi menjadi dua:

1.    Movement – Gerakan Badan

Mudah belajar dengan cara penyampaian melalui gerakan tubuh, berjalan-jalan, membolak-balik tubuh, bergoyang, terampil, dan cekatan.

2.     Touch – Gerakan Tangan

Mudah belajar dengan cara penyampaian melalui penggunaan jari, perabaan dan sentuhan tubuh. Kemampuan jari-jemarinya cekatan dan terampil sehingga mampu membuat kreasi tangan seperti clay dan desainer. Menari jenis tarian yang gemulai, menulis halus, dan hasil menggambarnya cukup teliti dan detil.

Ciri-ciri anak dengan tipe gaya belajar Kinestetik:

  • Menyukai kegiatan aktif baik sosial, kesenian, maupun olahraga. Sulit untuk duduk tenang, selalu ingin beregrak, dan memiliki koordinasi tubuh yang baik.
  • Gemar menyentuh semua yang dilihat dan ia kerap menggunakan gerakan/bahasa tubuh saat mengekspresikan diri/mengungkapkan emosinya saat itu.
  • Mencari perhatian lewat perhatian fisik seperti menyentuh orang lain dan suka mengerjakan sesuatu yang memungkinkan menggunakan tangannya secara aktif.
  • Jika ada mainan baru biasanya langsung ingin mencoba memainkannya.
  • Jika berkomunikasi sering menggunakan kata-kata yang mengandung aksi dan gemar memakai objek nyata untuk alat bantu belajar dan cenderung menggunakan jarinya untuk menunjuk kata-kata yang dibacanya.
  • Jika menghafal sesuatu biasanya sambil berjalan atau melihat objek secara langsung.
  • Mengunyah permen ketika mendengarkan penjelasan dari guru.
  • Menyukai buku dan film petualangan. Menyenangi metode bermain peran serta memiliki koordinasi mata dan tangan cukup baik sehingga mampu melakukan gerakan-gerakan dengan ritme cepat.
Kendala anak dengan tipe gaya belajar Kinestetik:

  • Cenderung tidak bisa diam dan sering dianggap nakal, pengganggu, dan usil.
  • Sulit mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, rumus-rumus, dan sebagainya).
  • Tak bisa belajar di sekolah-sekolah yang bergaya konvensional dimana guru menjelaskan dan anak duduk manis, tenang, dan diam.
  • Kapasitas energinya cukup tinggi sehingga bila tidak disalurkan dengan berbagai kegiatan fisik atau menggerakkan jari-jarinya maka akan berpengaruh terhadap konsentrasi belajarnya.
Cara Memaksimalkan Kemampuan Kinestetik

  • Sebagai langkah awal, anda hendaknya bersekolah  di sekolah yang menganut sistem active learning dimana siswa banyak terlibat dalam proses belajar. Hal ini agar kemampuannya berkembang secara optimal.
  • Belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai alat peraga, misalnya eksperimen di laboratorium.
  • Untuk siswa yang memiliki kapasitas energi berlebih, sebaiknya diberikan aktivitas fisik di rumah sebelum bersekolah. Misalnya mengikuti olahraga, membantu pekerjaan rumah seperti mencuci mobil, memebrsihkan rumah, atau mengerjakan sesuatu dengan jari-jarinya.
  • Di kelas dapat ikut beraktivitas bergerak seperti membersihkan papan tulis, membantu guru untuk membagikan buku-buku pelajaran.
Walaupun anda terkategori memiliki gaya Belajar Kinestetik, bukan berarti anda harus mengabaikan 2 gaya belajar yang lain.

Optimalkan Gaya Belajar Kinestetik Anda, dan coba tuk kembangkan gaya belajar yang lain. 

Kelebihan dan Kelemahan Pembelajar Kinestetik


Pembelajar kinestetik (kinesthetic learner) adalah pembelajar yang belajar menggunakan tipe belajar kinestetik, yaitu gaya belajar yang mengandalkan sentuhan atau aktivitas fisik untuk memahami suatu informasi. Pembelajar kinestetik cenderung lebih mudah mengingat apa yang mereka sentuh atau apa yang mereka kerjakan. Orang yang belajar dengan tipe kinestetik biasanya lebih suka memprakteikan secara langsung daripada hanya mendengar atau melihat. Pembelajar kinestetik cenderung aktif bergerak dan tidak bisa diam saat melakukan sesuatu termasuk saat belajar. Jika potensi pembelajar kinestetik tidak dilatih dan dikembangkan, maka anak akan mengalami masalah dalam beberapa aspek belajarnya terutama dalam menangkap penjelasan guru tentang sesuatu yang tidak dapat dipraktikan. Dengan melihat pola kecenderungan mereka dalam belajar, guru dan orangtua dapat membantu mengoptimalkan potensi belajar, kinerja, serta prestasi pembelajar kinestetik secara 


Kelebihan dan Kelemahan Pembelajar Kinestetik
Tipe atau gaya belajar menunjukkan kecenderungan mengenai cara seseorang dalam menangkap, mengatur, dan mengola informasi. Tipe belajar kinestetik memiliki kecenderungan untuk menyerap informasi melalui gerak fisik atau praktik langsung.

Untuk menangkap dan memahami informasi, pembelajar kinestetik harus menyentuh atau melakukan secara langsung hal-hal yang berkaitan dengan informasi tersebut. Mereka mengingat informasi berdasarkan kegiatan yang mereka lakukan. Aktivitas fisik adalah kekuatan utama mereka dalam menyerap, mengolah, dan memahami pelajaran.

Pembelajar kinestetik memiliki kemampuan kerja sama yang bagus antara mata dan tangan. Melalui apa yang mereka lihat dan mereka lakukan sendiri, pembelajar kinestetik lebih mudah memahami materi. Karena kecenderungan tersebut, pembelajar kinestetik biasanya lebih unggul di bidang praktikum atau olahraga.

Sama seperti tipe belajar visual dan auditori, pembeajar kinestetik juga memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Agar potensi anak berkembang, guru dan orangtua harus mencoba menggali dan mengembangkan kelebihan mereka serta memperbaiki beberapa kelemahan mereka.

Berikut beberapa kelebihan pembelajar kinestetik:
1. Mudah mengingat hal yang ia sentuh atau lakukan
2. Memiliki minat terhadap aktivitas atau permainan fisik
3. Dapat membayangkan informasi berdasarkan aktivitas yang mereka lakukan
4. Dapat mengikuti intruksi dengan baik 
5. Unggul di bidang praktik karena selalu ingin mencoba langsung

Kelebihan-kelebihan yang dimiliki pembelajar kinestetik akan sangat berguna jika dapat dimanfaatkan secara optimal. Di balik kelebihan tersebut, pembelajar kinestetik juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
1. Cenderung sulit memahami informasi jika tidak dipraktikan
2. Membutuhkan alat bantu tertentu untuk memahami suatu topik
3. Cendrung lemah dalam hal konsep teori
4. Cenderung mudah bosan dan frustasi saat duduk belajar dalam waktu yang lama
5. Menggunakan jari telunjuk untuk menunjuk saat membaca


Melatih dan Mengembangkan Potensi Pembelajar Kinestetik
Sesuai dengan kelebihan dan kekurangan yang telah dipaparkan di atas, maka berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melatih dan mengembangkan potensi anak yang belajar dengan tipe kinestetik.

#1 Gunakan Alat Bantu Peraga
Pembelajar kinestetik cenderung mengutamakan sentuhan atau aktivitas fisik sebagai aplikasi langsung untuk menangkap dan memahami informasi. Oleh karena itu, mereka lebih suka belajar dengan cara mempraktikan secara langsung atau menggunakan alat peraga untuk memahaminya.

Untuk mengembangkan potensi pembelajar kinestetik, maka gunakanlah media belajar aplikatif seperti alat bantu peraga, contoh nyata benda, dan sebagainya yang relevan dengan materi yang diajarkan. Misalnya saat anda mengajar tentang volume benda tiga dimensi, maka gunakanlah alat peraga berup balok, kubus, dan sebagainya.

Saat anda menjelaskan rumus menghitung volume balok, mintalah murid untuk memegang contoh balok dan tunjukkan mana bagian yang disebut panjang, lebar, tinggi, rusuk, diagonal sisi, diagonal ruang, dan sebagainya. Jika tidak memungkinakan untuk menghadirkan alat peraga atau melakukan percobaan, gunakanlah media pengganti berupa video yang dapat menjelaskan materi tersebut.

#2 Ciptakan Permainan Edukasi
Belajar sambil bermain adalah metode yang paling disukasi oleh pembelajar kinestetik. Mereka cenderung lebih aktif daripada teman-temannya dan tidak bisa diam saat belajar. Mereka sangat mudah bosan dengan metode belajar yang monoton yang hanya dijelaskan saja.

Untuk membantu mereka mengembangkan potensi, cobalah untuk sesering mungkin menggunakan permainan edukasi dalam menyampaikan pelajaran. Anda dapat menggunakan permainan berkelompok yang mengharuskan aktivitas fisik sehingga mereka lebih aktif.

#3 Lakukan Kegiatan Praktikum
Pembelajar kinestetik lebih suka mencoba langsung daripada melihat demonstrasi atau petunjuk. Mereka lebih menyukai aplikasi daripada teori. Oleh karena itu, pembelajar kinestetik biasanya unggul dalam hal praktikum atau pelajaran olahraga.

Untuk mengembangkan potensi mereka, cobalah untuk melakukan kegiatan praktikum jika memang ada materi yang dapat dipraktikkan. Jelaskan konsep materi melalui kegiatan praktikum dan biarkan mereka mempraktikkannya secara langsung agar mereka lebih paham.

Melakukan praktikum sesering mungkin akan sangat baik untuk mereka yang belajar dengan tipe kinestetik. Praktikum membantu mereka memahami suatu pelajarn dengan lebih baik dan biasanya mereka dapat mengingatnya untuk jangka waktu lebih lama dibanding belajar secara teori.

#4 Lakukan Aktivitas di Luar Kelas
Belajar di dalam kelas untuk waktu yang lama dapat membuat pembelajar kinestetik meras stress dan frustasi. Mereka yang aktif bergerak akan merasa sangat bosan jika hanya duduk dan medengarkan penjelasan guru dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, untuk membantu mereka cobalah sesekali untuk melakukan kegiatan belajar mengajar di luar kelas. Sesuaikanlah materi yang cocok dilakukan di luar kelas dan manfaatkan kondisi atau benda-benda di sekitar sekolah yang dapat dijadikan sebagai alat pendukung pembelajaran.

Misalnya, ketika belajar biologi tentang pertumbuhan dan perkembangan tanaman, maka anda dapat mengajak murid keluar kelas untuk mengamati tanaman di sekitar sekolah. Tunjukkan kepada mereka tenaman-tanaman yang mewakili konsep materi yang akan anda jelaskan.

Baca juga : <a href="http://www.edukiper.com/2016/09/cara-meningatkan-konsentrasi-saat-belajar.html" target="_blank">Cara Meningkatkan Konsentrasi Belajar Sesuai Tipe Anak.

#5 Latih Kemampuan Menulisnya
Pada beberapa kasus, pembelajar kinestetik mengalami kelemahan dalam mengeja kata. Mendengar dan mencatat merupakan kegiatan yang tidak mereka sukai karena mereka lebih ingin untuk melakukannya secara langsung. Teori tanpa praktik bagi mereka adalah sesuatu yang membosankan.

Kecenderungan pembelajar kinestetik untuk melakukan aktivitas fisik atau praktik langsung memang bagus untuk perkembangan motorik mereka. Tetapi, kondisi yang terlalu aktif dan tidak bisa diam seringkali menimbulkan masalah. Rasa bosan saat belajar secara teori juga membuat mereka cenderung malas mencatat atau membaca.

Agar mereka tidak hanya unggul dalam hal praktik, maka doronglah mereka untuk membuat catatan. Minta mereka untuk membuat model atau menggmbar diagram berdasarkan apa yang telah mereka praktikan. Berikan tugaskan laporan atau hasil praktikum dalam bentuk tertulis secara rutin.

#6 Berikan Aktivitas Ektsrakurikuler
Salah satu kelemahan yang umum dialami oleh pembelajar kinestetik adalah keterbatasan fasilitas di sekolah. Beberapa guru juga mengalami kesulitan untuk melakukan kegiatan praktikum karena fasilitasnya tidak memadai. Alhasil, materi yang seharusnya dipraktikkan, hanya disampaikan secara lisan.

Selain itu, tidak semua mata pelajaran dapat dipraktikkan dan waktu belajar di sekolah juga terbatas. Kondisi seperti ini menyebabkan pembelajar kinestetik merasa tertekan saat belajar. Karena pembelajar kinestetik cenderung lebih mudah memahami apa yang mereka lakukan secara langsung, maka metode belajar secara teori tentu kurang efektif bagi mereka.&nbsp;

Oleh karena itu, untuk membantu mengembangkan potensi anak, sarankanlah kepada mereka untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang banyak melibatkan aktivitas fisik. Cara seperti ini akan membantu mereka menyalurkan potensi yang ada dalam diri mereka.

#7 Ciptakan Suasana Belajar yang Aplikatif
Karena pembelajar kinestetik cenderung lebih memahami pelajaran dengan cara mempraktikannya, maka ciptakanlah suasana belajar yang aplikatif. Maksudnya, cobalah untuk sebisa mungkin mengkaitkan konsep materi yang anda sampaikan dengan kegiatan-kegiatan yang umum dilakukan.

Jika perlu, cobalah untuk menunjukkan atau mengaplikasikan secara lansung materi yang anda sampaikan dengan memanfaatkan benda-benda atau fasilitas yang ada di dalam kelas. Dengan analogi yang aplikatif, pembelajar kinestetik akan terbantu dan lebih mudah memahami pelajaran.

Sebagai contoh, ketika anda menjelaskan tentang penyakit sistem pencernaan maka anda bisa menyuruh salah satu murid anda untuk maju ke depan kelas dan menunjukkan di mana letak organ-organ pencernaan. Ketika anda menjelaskan tentang gangguan lambung, minta anak tersebut memegang bagian tubuh di mana lambung berada dan jelaskan gejala atau rasa yang timbul jika terjadi gangguan lambung.

4 Cara Menyikapi Anak Kinestetik



Setelah saya membahas mengenai ciri anak dengan tipe gaya belajar kinestetik di postingan terdahulu, maka dalam postingan saya kali ini, akan membahas mengenai beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang tua dalam menyikapi anak dengan tipe gaya belajar kinestetik. Hal ini perlu diketahui agar anak belajar sesuai dengan gayabelajar yang dimilikinya. Sehingga proses belajar bukan menjadi hal yang ditakutkanoleh anak.

Seperti yang telah diulas sebelumnya, anak dengan tipe gaya belajar kinestetik cenderung tidak bisa diam. Mereka lebih mudah belajar, lebih mudah menerima informasi melalui serangkaian aktivitas yang melibatkan organ geraknya dan selalu ingin mempraktekkan hal yang dipelajari secara langsung.

Karena anak dengan gaya belajar ini selalu melibatkan penggunaan jari, perabaan dan sentuhan, biasanya mereka lebih terampil dan jari-jemarinya lebih cekatan sertamampu membuat berbagai macam kerajinan tangan. Selain itu, anak dengan tipe belajar kinestetik selain cakap dalam berolahraga, mereka juga dapat menari dengan gemulai serta hasil gambarannya cukup teliti dan detil.

Kendala Anak Kinestetik 
Namun, karena anak dengan tipe gaya belajar ini kerap tidak bisa diam, biasanya muncul berbagai macam kendala yang sebaiknya perlu dipahami oleh orang tua. Anak dengan gaya belajar kinestetik memiliki kendala yang perlu diketahui oleh orang tua mereka, yaitu :
  1. Anak kinestetik cenderung tidak bisa diam dan dianggap mengganggu, usil bahkan kerap dianggap nakal. Seringkali, mereka dapat dianggap mengggangu jika berada dalam lingkungan yang mayoritas anaknya lebih senang diam dan memiliki tipe belajar auditori atau visual.
  2. Bila berada di sekolah dengan gaya belajar konvensional, yang menerapkan gaya belajar mengharuskan murid duduk tenang, diam tidak boleh banyak bergerak ketika gurunya menjelaskan, biasanya mereka akan merasa kesulitan belajar atau sulit menangkap informasi yang disampaikan. Hal ini juga terjadi pada anak saya. Ketika saya mendampingi dia belajar dan menyuruh lelaki kecil itu duduk diam, kenyataannya dia cenderung tidak memperhatikan apa yang kita katakan atau kita informasikan, bahkan terlihat seperti orang yang melamun.:)
  3. Ketika menghadapi mata pelajaran yang mencakup rumus-rumus atau hal yang abstrak seperti simbol matematika, peta dan sejenisnya, mereka cenderung sulit mempelajarinya.
  4. Kemampuan dalam pergerakannya atau kapasitas energinya cukup tinggi sehingga cenderung merasa kesulitan jika harus berkonsentrasi penuh. Oleh karena itu, perlu disalurkan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan kegiatan fisik atau aktivitas yang menggunakan jari-jarinya.
Saran untuk Orang Tua Dalam Menghadapi Anak Kinestetik 
Setelah mengetahui kendala yang dihadapi anak dengan gaya belajar kinestetik, maka ada 4 cara menyikapi anak dengan tipe gaya belajar kinestetik yang perlu diketahui oleh orang tua, yaitu :
1. Untuk mendukung gaya belajar yang dimiliki anak, sebaiknya orang tuamempercayakan pendidikan anak mereka di sekolah yang menganut sistem active learning, yaitu menerapkan cara belajar yang melibatkan siswanya. Jadi pembelajaran bersifat dua arah. Anak diarahkan untuk tetap aktif sehingga kemampuannya berkembang secara optimal. 
Di sekolah tempat ade belajar, setiap siswa baru yang akan masuk, harus melalui tes psikotes untuk mengetahui tipe gaya belajar siswa yang bersangkutan. Dan anak yang memiliki gaya belajar yang sama, ditempatkan pada satu kelas yang sama. 
Anak saya yang memiliki gaya belajar kinestetik disatukan dengan teman-temannya yang memiliki gaya belajar yang sama. Sehingga kebiasaan mereka yang selalu bergerak, tidak mengganggu siswa lain yang cenderung menginginkan situasi belajar yang tenang dan hening.
Wah, saya salut juga dengan guru kelas anak saya, waktu itu. Dengan sabar dan tenang, sang guru mengajarkan anak-anaknya, sedangkan siswa-siswanya sibuk sendiri berjalan ke sana kemari, berdiri di samping mejanya bahkan saya lihat ada beberapa anak yang loncat-loncat karena ingin melihat keluar jendela.
Tapi, siapa sangka, di akhir semester, nilai mereka bagus-bagus, loh! Bahkan lebih unggul daripada yang lain.

2. Sebelum pergi berangkat ke sekolah, sebaiknya anak-anak diberikan aktivitas fisik untuk mengalihkan kapasitas energinya yang berlebih. Dengan energi yang sudahdigunakan di pagi hari, diharapkan sisa energi yang tersimpan untuk kegiatan belajar di sekolah, tidak terlalu besar. Sehingga mereka bisa belajar dengan tenang.

Aktivitas yang dapat membuat anak tersalurkan energinya antara lain yaitu, dilibatkan dalam kegiatan untuk membantu pekerjaan rumah tangga seperti mencuci kendaraan, mencuci piring, membersihkan rumah, mengerjakan kegiatan dengan jari-jarinya atau melakukan olah raga ringan.


Karena Ikal senang bersepeda, maka saya tidak melarang dia untuk bersepeda sekitar 15 - 20 menit di sekitar lingkungan rumah kami, sebelum berangkat ke sekolah. Atau ikut membersihkan rumah jika dia enggan bersepeda sebelum berangkat ke sekolah.

3. Anak dengan tipe belajar kinestetik lebih mudah menyerap informasi melalui pengalaman. Bereksperimen di laboratorium merupakan salah satu cara belajar, bagi mereka agar lebih efektif. Sekolah yang sering menggunakan laboratorium untuk praktek, merupakan media pendukung bagi anak kinestetik.

Sedangkan untuk belajar di rumah, orang tua dapat membantu anak mempergunakan alat peraga. Misalnya, untuk mengenalkan planet-planet yang berada dalam orbitnya, orang tua dapat menggunakan bola-bola untuk memperjelas. Dan biarkan anak untuk menyentuh bola tersebut dan menggerakkannya dalam orbit. Ingatlah, mereka senang sekali belajar dengan menyentuh, bukan?

4. Untuk mendukung proses belajar di sekolah, sebaiknya orang tua memberi saran kepada guru dan pihak sekolah, agar anak bisa diikutsertakan dalam berbagai aktivitas untuk mengalihkan kelebihan energi anak. Guru bisa mengajak anak untuk membantu membersihkan papan tulis, atau membantu membagikan buku pelajaran untuk teman-temannya.

Dengan mengetahui cara menghadapi anak dengan tipe gaya belajar kinestetik, diharapkan anak dapat belajar dengan lebih maksimal dan mendapatkan hasil sesuai dengan harapan orang tua.

Teman-teman, sebagai orang tua, kita memang harus terus belajar. Berusaha belajaruntuk mengetahui gaya belajar yang tepat bagi anak-anak kita. Dengan mengetahuinya, maka kita pun dapat mengatasi segala kendala yang muncul dan dapat dengan mudah menstimulasi anak-anak sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Itulah gaya belajar kinestetik yang dominan dimiliki oleh anak lelaki saya. Sedangkan anak perempuan saya lebih cenderung ke tipe gaya belajar auditori. Lain waktu, saya akan ceritakan ciri dan kendala yang ada pada si kakak yang bergaya auditori, ya ...
Semoga bermanfaat :)  

Mengembangkan Potensi Pembelajar Kinestetik


Apakah anak anda langsung melakukan sesuatu yang baru tanpa berpikir dua kali tentang bagaimana melakukannya? Apakah dia sangat lincah untuk anak seusianya? Jika demikian, mungkin dia seorang pembelajar kinestetik.
Seperti diketahui, sebagian para ahli mengelompokkan ada tiga tipe pembelajar, yaitu tipe auditory, tipe visual, dan tipe kinestetik. Tipe pembelajar kinestetik secara singkat dapat digambarkan sebagai: “Orang yang harus terlibat langsung untuk dapat mengerti”
Jadi bagaimana anda tahu apakah anak anda adalah seorang pembelajar kinestetik atau hanya seorang anak yang aktif?
Para ahli mengatakan bahwa setengah dari semua siswa memiliki sifat kinestetik pada tingkat tertentu. Namun, jika anda mengamati ciri-ciri berikut pada anak anda dari waktu ke waktu, itu bisa menjadi indikasi dari gaya belajar kinestetik.
Pembelajar kinestetik umumnya perlu :
  • Menyentuh, merasakan, dan menangani sesuatu.
  • Mereka ingin mencobanya langsung. Mereka tidak akan ingin melihat demonstrasi.
  • Menggerakkan tubuh mereka untuk belajar sesuatu yang baru. Sebagai contoh, anak dapat membaca buku dengan tangan kiri sementara memantul bola basket dengan tangan kanan.
  • Menunjukkan dengan perbuatan daripada memberitahu.
Sayangnya, beberapa anak dengan tipe kinestetik sering disalahartikan sebagai ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). Padahal yang mereka butuhkan hanyalah menyelesaikan aktivitas mereka untuk mendapatkan kembali fokus mereka. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk membantu anak dengan tipe belar kinestetik dalam hal belajar:
  • Apabila ada, ikutkanlah dia dalam kegiatan drama di sekolah. Seni drama dapat menjadi hal yang menyenangkan bagi pembelajar kinestetik.
  • Doronglah dia untuk belajar di alam terbuka. Ketika melakukan suatu aktivitas, kaitkanlah dengan pelajarannya di sekolah.
  • Dorong dia untuk membuat catatan, menggambar diagram, dan membuat model.
  • Tanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan pelajaran sewaktu dia melakukan aktivitas, contohnya sambil bermain badminton.
  • Masukkan dia ke sekolah yang memiliki banyak aktivitas ekstra kulikuler yang bersifat fisik.
Sebagai orang tua, sangat penting anda bermitra dengan guru anak anda dan menjadi aktif dalam dalam kegiatan di sekolah. Semakin banyak anda mempelajari cara unik anak anda dalam belajar, semakin baik anda dapat membantu guru-gurunya dalam memberikan dia metode yang dia butuhkan untuk berhasil .

Senin, 01 Agustus 2016

Mengajak si kinestetik beradaptasi

Mengajak si kinestetik beradaptasi


Anak Anda tidak bisa duduk diam dan seringkali sibuk sendiri? Jangan khawatir, mungkin ia adalah si tipe kinestetik. Ia bukan nakal, dan sebetulnya ia bisa diajak beradaptasi di tempat manapun. maksimalkan kemampuannya dan komunikasikan dengan guru



Setiap manusia itu unik. Ya, sebab tidak ada satupun manusia yang punya kepribadian sama persis, bahkan yang kembar sekalipun. Karena itu para ahli yang memeplajari manusia mulai mengeluarkan banyak hasil penelitiannya berupa karakteristik manusia. Dari dominasi otak kanan atau otak kiri, hingga gaya belajar; kinsetetik, visual, auditori.

Karena itu, sebaiknya setiap sekolah bisa selalu memahami dan menerapkan cara mengajar yang disesuaikan dengan karakteristik setiap anak. Sebab anak tidak bisa disamaratakan lalu harus selalu memahami apa yang diajarkan dengan cara yang seragam. Maka belakangan ini ada begitu banyak sekolah yang menekankan poin tersebut, sebagai keunggulannya. Bahwa mereka sangat memahami keunikan setiap anak, lalu berjanji untuk memfasilitasinya.

Sayangnya, sekolah yang seperti itu biasanya membuat orangtua harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Oleh sebab itu, tidak semua orangtua mampu menyekolahkan anaknya di tempat-tempat yang seperti demikian. Masih banyak orangtua memilih sekolah konvensional, yang sarat dengan metode belajar seragam. Hal ini tidak akan menjadi perkara besar jika anak tersebut merupakan tipe auditori atau visual. Namun lain lagi dengan anak yang kinestetik.

Tipe Kinestetik adalah tipe gaya belajar yang cenderung mudah menerima dan mengolah informasi melalui serangkaian aktivitas yang menggerakkan sebagian / seluruh anggota tubuh dan mempraktekkan hal-hal yang dipelajari. 

Ciri-ciri anak dengan tipe gaya belajar Kinestetik:
  1. Menyukai kegiatan aktif baik sosial, kesenian, maupun olahraga. Sulit untuk duduk tenang, selalu ingin beregrak, dan memiliki koordinasi tubuh yang baik.
  2. Gemar menyentuh semua yang dilihat dan ia kerap menggunakan gerakan/bahasa tubuh saat mengekspresikan diri/mengungkapkan emosinya saat itu.
  3. Mencari perhatian lewat perhatian fisik seperti menyentuh orang lain dan suka mengerjakan sesuatu yang memungkinkan menggunakan tangannya secara aktif.
  4. Jika ada mainan baru biasanya langsung ingin mencoba memainkannya.
  5. Biasanya anak-anak dengan kecerdasan kinestetik sudah mulai terlihat sejak usianya menginjak empat tahun.


Ya, tidak ada bedanya tipe belajar kinestetik dengan tipe-tipe belajar lainnya. Sayangnya, karena kurikulum Indonesia pada umumnya masih sarat dengan penyeragaman, maka anak-anak yang sangat aktif ini kerap dilabeli dengan "anak nakal". Apalagi jika mereka yang tidak mau duduk diam ini, bersekolah di sekolah konvensional. Mereka akan merasa amat bosan duduk dan mengikuti pelajaran di dalam kelas. Lalu biasanya jadi pengganggu karena tidak tertarik dengan aktivitas di kelas.

Hal ini tentu menjadi dilema bagi setiap orangtua. Apalagi pertimbangan biaya menjadi kendala utama. Ya, sebetulnya, tidak ada masalah jika orangtua terpaksa menyekolahkan anak di tempat konvensional. Namun memang, orangtua harus memenuhi hal-hal yang tidak teratasi di sekolah. Sebab, biasanya anak kinestetik mengalami banyak kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Orangtua harus selalu ada dan aktif berkomunikasi dengan guru, agar memahami benar perkembangan anak disekolah. Lalu mengejar ketertinggalan dengan memberikan pelajaran yang sama dengan cara yang mudah dipahami anak kinestetik.

Manusia beradaptasi, kan? Karena itu Dawna Markova, Ph.D. pernah mengatakan dalam bukunya, bahwa setiap anak memiliki potensi belajar KVA (Kinestetik-Visual-Audio), hanya saja dengan porsi yang berbeda-beda. Walau demikian tipe belajar setiap anak tidak selalu bertahan seperti itu. Memperkaya gaya belajar setiap saat itu sangat dianjurkan. Misalnya saja ketika kecil seorang anak lebih condong kepada gaya belajar kinestetik, setelah agak besar mungkin saja lebih condong dengan gaya audio, dan ketika dewasa bisa berubah menjadi visual.


Jadi tidak usah khawatir berlebihan saat si kecil menjadi "anak nakal" di kelas. Mungkin ia memiliki kecerdasan kinestetik lebih dominan dalam dirinya. Dukung dan penuhi kebutuhannya di rumah. Terapkan disiplin dengan cara yang bisa diikutinya, dan jangan menyerah untuk terus mengingatkan agar ia beradaptasi dengan lingkungannya. Toh ke depannya pun setiap manusia harus terus mampu beradaptasi di manapun ia berada, kan? Tugas berat memang menghantui Anda, tapi bukankah itu alasan mengapa Tuhan memilih Anda menjadi orangtua?

sumber 
keluarga dot com

SI “BIANG GADUH” DI KELAS

SI “BIANG GADUH” DI KELAS

M. Musrofi
Seorang Bapak bertanya, “Anak saya kelas 3 sd, tetapi tidak bisa konsentrasi setiap diterangkan pelajaran baik di sekolah/rumah, sampai-sampai dikelas disebut biang “gojek” (gaduh), tetapi dia mudah bergaul pada siapapun, mandiri & senang otak atik sesuatu. Bagaimana menurut bapak? Apa yang seharusnya saya lakukan?”

Jawaban:

Kalau anak bertipe visual maka mata adalah “jendela ilmu.” Tipe ini suka membaca. Kalau anak bertipe auditori, maka  telinga sebagai “jendela ilmu.” Tipe ini akan sangat bagus menyerap materi pelajaran dengan cara mendengar. Kalau anak bertipe kinestetik, maka praktek (menyentuh, merasa, dan membau) dan bergerak adalah “jendela ilmu.” Barangkali anak Bapak/Ibu bertipe kinestetik ini.  Coba Bapak/Ibu ikuti tips berikut ini saat mengajari anak di rumah: 

Biarkan anak bergerak-gerak di saat menghapal materi. Dia memang tidak bisa duduk diam lebih dari 15 menit atau 25 menit. Jadi jangan dipaksa duduk, biarkan ia bergerak-gerak untuk jeda.  

Dalam mengajari materi pelajaran, buat suasana seperti berdiskusi. Sebisa mungkin dengan menggunakan alat-alat peraga. Alat peraga tidak perlu beli. Misal : menghitung luas empat persegi panjang : ambil kertas folio, telunjuk anak diminta memegang sisi-sisi kertas itu, mana panjang, mana lebar., lalu bagaimana menghitung luasnya. Anak itu akan mengingat materi pelajaran bukan dari apa yang dia lihat atau apa yang dia dengar, tetapi dari apa yang dia alami atau praktekkan.

Cara lain, bila akan mengingat materi pelajaran, dapat dilakukan dengan menutup mata lalu menulis dengan jari telunjuk materi yang diingat tersebut di udara (seperti pantomim)  Kalau membaca, jari telunjuknya diminta aktif (menunjuk kalimat yang tengah dibaca). Kalau materi pelajaran berupa bacaan panjang lebar, diringkas menjadi penggalan-penggalan kalimat. Anak bertipe ini memang tidak suka membaca panjang lebar. Anak bertipe ini perlu melakukan gerakan-gerakan fisik untuk bersiap-siap menghadapi tes atau ujian.

Intinya adalah anak itu akan termotivasi belajar dan mengingat materi pelajaran dengan baik dengan cara bergerak, mengalami atau praktek. Jadi anak itu bukannya tidak bisa konsentrasi dalam belajar, tetapi memang cara belajarnya dengan cara bergerak dan praktek. Nah, Bapak/Ibu perlu dicoba tips tersebut di rumah. Kalau berhasil bagus, mungkin gurunya perlu diberitahu. Yang penting, dicoba dulu tips sederhana tersebut di rumah.

Memang agak sulit ya bila anak itu berada di kelas. Dia cenderung bergerak dan mungkin juga ingin mengajak bicara dengan teman sebangku. Maka anak ini disebut “biang gaduh”, padahal sekali lagi memang cara belajar anak ini dengan bergerak-gerak. Hasil penelitian menunjukkan : para pelajar kinestetik paling berisiko gagal mengikuti pelajaran di kelas. Oleh karena pola pembelajaran yang biasa dilakukan di kelas adalah pola visual (guru menjelaskan dengan grafik, tulisan, gambar, dll) dan auditorial (guru menjelaskan secara lisan), bukan dengan praktek dan banyak gerakan.

Thomas Alva Edison, penemu lampu pijar, accu (aki), pengeras suara, dan lain-lain, adalah tipe kinestetik : suka bergerak-gerak dan suka praktek. Barangkali seperti anak ibu yang suka otak-atik. Edison adalah ”biang gaduh” di kelas. sampai gurunya ”judheg”, lalu Edison dipukul gurunya dengan rotan. Lalu ibunyalah yang mendidik dia sampai menjadi orang besar, dengan ribuan temuan.

Nah, soal anak yang suka otak-atik, bagus sekali apabila aktivitas ini benar-benar Bapak/Ibu dukung dan diberikan fasilitas obyek otak-atik tersebut. Coba per tiga bulan sekali, anak diminta membuat sesuatu dari otak-atiknya itu. Yang perlu ditekankan tidak ada pemaksaan. Mudah-mudahan, anak itu bisa membuat karya-karya inovatif. Mudah-mudahan anak itu nantinya jadi penemu besar seperti Edison, asal ibunya sabar mengasuh. Karena ”banyak Edison-Edison kecil” seperti anak Bapak/Ibu, yang kandas di tengah perjalanan hidupnya, karena selalu disalahkan di sekolah dan di rumah.

sumber:www.sdsukses

Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan Kinestetik adalah kemampuan untuk membangun hubungan penting antara pikiran dengan tubuh, yang memungkinkan tubuh untuk menciptakan gerakan.


Kecerdasan Kinestetik ini penting dan bermanfaat:
Meningkatkan kemampuan psikomotorik
Meningkatkan kemampuan sosial dan sportivitas
Membangun rasa percaya diri dan harga diri
Meningkatkan kesehatan.

Indikator Kecerdasan Kinestetik:
Cepat menerima informasi
Mampu memainkan alat musik yang menggunakan jari
Mampu menggambar objek secara detail
Senang bergerak

Ciri-ciri:
Aktif atau tak mudah lelah
Menggunakan anggota tubuh untuk berkomunikasi
Cenderung ingin menyentuh sesuatu yang menarik perhatian

Contoh Karir:
Atlet
Dokter gigi
Koreografer
Mekanik
Ahli bedah

Stimulasi yang cocok:
Gunakan gerakan dalam mengajar
Berikan kesempatan untuk menyentuh dalam pengarahan
Libatkan dalam berbagai kegiatan
Ajaklah untuk berolah raga
Berikan buku-buku mengenai kreativitas, dan olah raga

Contoh game:
Bermain hula-hula
Bermain musik
Melompat
Meniti balok
Menari
Bersepeda, sepatu roda, skateboard

Siswa Berkarakter Kinestetik Perlu Diperhatikan


Setiap guru di Indonesia tidak banyak yang mengerti soal karakteristik psikologi anak. Banyak dari mereka yang mengacu pada karakteristik auditori dan visual, sedangkan karakter kinestetik dianggap sebagai kenakalan.

Psikolog yang berkecimpung di Yayasan Anak Indonesia Suka Baca, Kamis (28/6), Linda Saptadji mengatakan,

karakteristik anak menjadi salah satu tantangan bagi pendidikan di Indonesia, terutama bagi anak yang memiliki karakter kinestetik. Guru sering mempersepsikan mereka sebagai anak yang nakal karna banyak bergerak”.

Tidak semua pelajaran memiliki sesi praktik, sehingga harus ada usaha lebih untuk bisa menerjemahkan pengetahuan yang guru berikan dalam bentuk praktik,” jelasnya Linda. “Karena pada saat mapping terserah anak mau menulis apa dan mereka mempertanggungjawabkan apa yang mereka tulis,” kata Linda. Mayoritas guru di sekolah lebih mengacu pada karakteristik visible dan auditorial, sehingga anak yang berkarakter kinestetik tidak terangkul secara maksimal dalam mencerna pelajaran.

Guru-guru di Indonesia belum dikomunikasikan untuk menangani kriteria anak. Kasihan, karena mereka itu memiliki karakteristik yang unik. 


Tidak satisfactory jika kita menghadapi mereka dengan cara yang sama. "Guru-guru di Indonesia belum dikomunikasikan untuk menangani kriteria anak. Kasihan anak-anak, karena mereka itu kan memiliki karakteristik yang unik. Tidak fair jika kita menghadapi mereka dengan cara yang sama," ungkap Linda Saptadji, psikolog yang berkecimpung di Yayasan Anak Indonesia Suka Baca, di Jakarta, Kamis (28/6/2012).

Linda mengatakan, karakteristik anak memang menjadi tantangan bagi dunia pendidikan saat ini, khususnya anak-anak yang memiliki karakter kinestetik. Linda melanjutkan, anak kinestetik memiliki problema dalam menangkap pelajaran. Akibatnya, anak-anak kinestetik belajar dengan cara-cara motorik. Guru juga diminta untuk mencari strategi baru dalam mengajar dan mendidik perkembangan anak-anak didiknya. "Karena pada saat mapping terserah anak mau menulis apa dan mereka mempertanggungjawabkan apa yang mereka tulis," kata Linda. “Bukan menjadi guru yang pemarah dan senang menjatuhkan muridnya,” katanya. Karena itu, kata Sudibyo, dalam mengajar banyak hal yang harus diperhatikan agar seorang guru bisa menjunjung tinggi komitmen, konsisten, dan konsekuen terhadap pekerjaannya. 

Guru yang berkarakter akan mengajar dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Kemapuan visual, auditori dan kinestetik (kepekaan). “Jadi seorang guru bisa memahami kendala siswa dalam menyerap pelajaran. Metode seperti eksplorasi, eksploitasi, dan elaborasi, sangat membantu setiap siswa yang kesulitan dalam pelajaran. Anak merupakan individu yang berkarakter, memiliki ciri khas tersendiri. Sama halnya dengan siswa dalam kelas. Jumlah yang kurang menguntungkan untuk pembelajaran. Tipe belajar visual ialah cara anak belajar dengan cara melihat. Anak dengan tipikal ini cenderung lebih mudah belajar karena hanya dengan melihat ia bisa dengan mudah menangkap pelajaran.

Anak kinestetik merupakan kelompok anak yang cenderung mengalami kesulitan belajar karena mereka harus mengalami sendiri suatu peristiwa agar cepat paham. Mereka sangat kesulitan jika belajar hanya dengan membaca dan mendengar. Apabila guru mengenali tipe belajar masing-masing anak, hal tersebut akan mempermudah guru dalam melaksanakan pembelajaran. Guru dapat memilih media yang paling tepat sesuai dengan karakteristik siswa dalam kelasnya. Angket-angket tersebut berisi pertanyaan tentang kebiasaan anak visual, auditory, dan kinestetik. Keuntungan memahami tipe balajar anak bukan hanya bermanfaat bagi guru tapi untuk anak sendiri dan orang tua. 

"Ketika anak memahami tipe belajarnya ia akan belajar memahami sesuatu 
dengan caranya sendiri. "


Contoh, orang tua yang memiliki seorang kinestetik, mereka harus memahami bahwa anak kinestetik memang memiliki kesulitasn belajar. Ketika orang tua memahami cara belahar anak, ia akan menuntun mereka perlahan, membimbing, mengarahkan dan hal terlarang bagi orang tua adalah menuntut anak dengan ekspektasi yang tinggi. Kita tidak bisa menyamakan diri kita sendiri dengan mereka. Mereka jelas hidup di zaman yang berbeda maka pola didik yang dibutuhkan tak bisa disamakan. Tuntutan yang berlebihan, ekspektasi berlebihan akan membuat mereka bekerja keras dan sampailah pada titik kejenuhan, frustasi karena tidak bisa melakukan apa yang diharapkan orang lain. Biarkan mereka berekspresi, melakukan hal positif yang mereka suka. 

Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan berkarakter pada peserta didik sekolah menengah untuk membentuk dasar berpikir yang lebih dewasa. Tujuan; Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Hasil; Pendidikan berkarakter bagi siswa sekolah menengah dapat terwujud dengan melakukan hal-hal antara lain; pendidikan karakter secara terpadu melalui pembelajaran, pendidikan karakter secara terpadu melalui manajemant sekolah, dan pendidikan secara terpadu malalui kegiatan ekstrakurikuler. 

Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh siswa tidak lepas dari peran guru yang turut memberikan pengaruh besar pada pendidikan itu sendiri. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices, yang menjadi contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya. Pendidikan karakter diharapkan lulusan SMP memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.

sumber:duniapsikologiuntukanda.blogspot

Kamis, 28 Juli 2016

Pembelajaran Anak Kinestetik

Bagaimana cara menghadapi anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik?
Agak malas dalam menerima pelajaran?
Serta bagaimana cara melatih konsentrasi anak dengan gaya belajar kinestetik agar bisa lebih fokus dalam belajar?


 akan kita bahas dalam uraian berikut.

Anak malas belajar merupakan dilema yang sering dihadapi orang tua dan para pendidik. Berikut cara mendidik Anak Usia Dini sehingga dapat memotivasi anak agar semangat dan rajin belajar :

Pertama-tama, sebaiknya mencari tahu terlebih dahulu penyebab anak malas belajar.

Bukan berarti anak enggan belajar karena ia tidak pintar atau malas. Ada dua faktor penyebab anak malas belajar, pertama dari dalam dirinya belum ada motivasi untuk belajar. Hal itu disebabkan karena anak belum tahu manfaat belajar dan tujuannya untuk belajar. Tugas kita untuk memberi pemahaman mengenai pentingnya belajar. Selain itu, kelelahan fisik bisa menjadi faktor lainnya. Sedangkan faktor dari luar, bisa berupa minimnya sarana belajar seperti alat tulis atau meja belajar agar mereka dapat belajar dengan nyaman.

Berkomunikasi dengan anak.

Komunikasi bisa berupa motivasi pada anak dengan berbagai bentuk.
Menciptakan lingkungan belajar yang positif. Suasana belajar yang menyenangkan juga menjadi syarat penting untuk membuat anak rajin belajar.

Jeda waktu belajar.

Belajar akan lebih efektif jika ada jeda waktunya. Misalnya dalam waktu 1 jam belajar, beri jeda waktu tiap 30 menit. Biarkan anak melakukan hal-hal yang bisa menghilangkan kejenuhannya. Anak hanya mampu berkonsentrasi penuh paling lama 20 menit. Selebihnya daya konsentrasi menurun.

Kenali tipe belajar Kenali paling dominan saat anak belajar.

Apakah itu tipe auditori, yaitu anak lebih menerima dengan cara mendengarkan, tipe visual di mana anak lebih cepat belajar dengan melihat, atau tipe kinestetik alias fisik. Anak yang belajar dengan metode kurang tepat hasilnya tidak akan maksimal.

Sesekali memberinya hadiah atau sekadar memberi pujian dapat menjadi motivasi bagi anak agar semangat dan rajin belajar. Bisa juga dengan cara memberikan tepukan telapak tangan, ajungan jempol, menempelkan foto mereka yang sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik di album dinding yang telah disediakan (yang menempel anak-anak sendiri).

Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggunakan seluruh tubuh (fisik) untuk mengekspresikan ide dan perasaan serta keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu.

Kemampuan inti dari gaya belajar kinestetik bertumpu pada kemampuan yang tinggi untuk mengendalikan gerak tubuh (koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan) dan keterampilan yang tinggi untuk menangani benda (keterampilan tangan, koordinasi mata-tangan, kepekaan sentuhan).

Untuk dapat meningkatkan semangat belajar dan melatih kosentrasi anak dengan gaya belajar kinestetik agar dapat lebih fokus dalam pembelajaran, seorang guru sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut :
  1. Mengoptimalkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media yang lebih menarik, menyenangkan, dan bervariasi agar dapat membuat anak berminat dan antusias terhadap proses pembelajaran tersebut.
  2. Guru hendaknya melakukan pendekatan secara sosial emosional terhadap anak, agar anak berani berekspresi dalam kegiatan gerak dan lagu.
  3. Materi yang diberikan kepada anak hendaklah sesuai dengan konteks kehidupan anak, yang mudah diingat oleh anak dan dapat dijadikan pedoman dalam perilakunya.
  4. Dalam setiap pembelajaran kegiatan gerak dan lagu hendaknya guru tidak selalu memberi contoh agar anak bisa berkreasi dengan gerakannya sendiri sesuai imajinasi dan kemauannya sendiri.


Pembelajaran untuk anak kinestetik dapat dilakukan dengan cara mengajak anak-anak melakukan kegiatan atau permainan yang menarik dan menyenangkan, diantaranya :


A. MELATIH KOSENTRASI MELALUI KOORDINASI TUBUH.

Kegiatan ini didasarkan pada kemampuan anak dalam menyinkronkan berbagai gerakan, baik motorik kasar maupun motorik halus, misalnya :

1. Bersepeda dengan penghalang. 
"Bersepeda dengan penghalang" merupakan kegiatan mengendarai sepeda yang melibatkan koordinasi kaki-mata-tangan. Selain mengharuskan anak menfokuskan perhatian pada jalan dan penghalangnya sekaligus, kegiatan ini juga mengharuskan anak mengkoordinasikan gerak kaki-tangan dan kecermatan persepsi indrawi atau mata. Kegiatan yang dilakukan yaitu membimbing anak memedal dan menguasai setang sepeda agar dapat membuat gerakan mengelilingi rintangan-rintangan yang telah kita buat.
2. Menangkap Bola Memantul.
Menangkap Bola Memantul merupakan kegiatan menangkap bola pantulan yang dilakukan orang lain kepada anak. Kegiatan ini juga bertujuan merangsang kemampuan anak menangani benda-benda dengan koordinasi tubuh, terutama tangan dan mata. Kegiatan yang dilakukan yaitu mengajak anak-anak ke halaman membentuk sebuah lingkaran, kemudian guru yang berada di tengah lingkaran memantulkan bola kehadapan anak satu persatu dan beri kesempatan agar anak menangkap bola tersebut.
3. Lomba Mengancingkan.
Lomba Mengancingkan merupakan kegiatan mengaitkan kancing dengan lubang kancing. Kegiatan ini juga bertujuan mengasah kemampuan koordinasi tangan. Kegiatan yang dilakukan yaitu guru menyiapkan beberapa pakaian yang berkancing, dan memberikan contoh  bagaimana cara memasukkan dan mengeluarkan kancing. Setelah itu, membuat perlombaan siapa yang paling cepat melakukannya.


B. MELATIH KOSENTRASI MELALUI KESEIMBANGAN TUBUH.

Kemampuan ini dapat dirangsang dengan berbagai kegiatan yang didasarkan pada kemampuan tubuh untuk menyeimbangkan gaya dan rangsang, misalnya:
1. Berdiri di Atas Kaleng.
Berdiri di Atas Kaleng, merupakan kegiatan berdiri di atas kaleng dengan dua kaki selama beberapa saat. Kegiatan ini juga bertujuan mengembangkan keseimbangan tubuh anak yang bertumpu pada kaki. Kegiatan yang dilakukan yaitu guru menyiapkan susunan beberapa kaleng biskuit (berdiameter 30 cm dan tinggi 10 cm) yang diisi dengan pasir dan bimbing anak agar bisa melewati semua kaleng tersebut. Pertama-tama bisa dengan cara berjalan seperti biasa kemudian dengan melompat.
2. Berdiri Satu Kaki.
Berdiri Satu Kaki merupakan kegiatan berdiri dengan mengangkat salah satu kaki dan menjadikan satu kaki yang lain sebagai tumpuan kekuatan. Kegiatan ini juga bertujuan mengembangkan keseimbangan tubuh anak yang bertumpu pada satu kaki. Kegiatan yang dilakukan yaitu mengajak anak-anak bersama-sama menirukan gaya bangau berdiri dengan satu kaki (silangkan tangan di dada dengan jari menyentuh pundak), sambil ajak mereka berhitung. Anak yang paling lama berdiri, dialah yang berhak dijuluki Si Kuat. 
3. Membawa Kelereng.
Membawa Kelereng merupakan permainan membawa kelereng dalam wadah dari satu titik ketitik yang lain dengan media tertentu.


C. MELATIH KOSENTRASI MELALUI KETERAMPILAN.

Keterampilan sebagai kecakapan motorik halus pada anak dapat dirangsang dengan berbagai kegiatan yang menekankan kemampuan menangani benda-benda dan membuat bentuk tertentu, misalnya :
1. Kolase Kertas.
Kolase Kertas merupakan komposisi artistik yang dibuat dari berbagai bahan, baik kain perca, kertas maupun kayu.
2. Mencocok Gambar.
Mencocok Gambar merupakan kegiatan memotong kertas dengan cara menusuk-nusuk pinggiran gambar (pada kertas) sehingga membentuk gambar tertentu. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengembangkan keterampilan tangan atau motorik halus anak.
3. Menebalkan dan Menyalin.
Menebalkan dan Menyalin merupakan kegiatan menandaskan garis pada gambar atau tulisan. Kegiatan ini juga bertujuan menguatkan kemampuan motorik halus anak atau mengembangkan keterampilan menggunakan tangan.
4. Meronce.
Meronce merupakan kegiatan merangkai benda, seperti bunga, manik-manik, dan potongan sedotan. Kegiatan ini juga bertujuan mengembangkan kemampuan atau keterampilan menggunakan tangan. Penekanan bukan pada pola, tetapi pada kemampuan merangkai.
5. Menata.
Menata merupakan kegiatan menempatkan suatu benda secara rapi dan sistematis. Kegiatan ini juga bertujuan mengembangkan kemampuan anak menangani benda dalam hal penyimpanan dan penempatannya.


D. MELATIH KOSENTRASI MELALUI KEKUATAN FISIK.

Anak-anak dengan fisik yang kuat cenderung tidak mudah terjatuh dan lelah pada saat melakukan aktifitas fisik. Rangsang kekuatan fisik harus dilakukan secara matang, tidak melebihi kapasitas beban anak dan dengan cara-cara yang menyenangkan, misalnya :
1. Panjat Tali.
Panjat Tali” merupakan bagian dari kegiatan memanjat (naik), menyeberang (melintas), dan menuruni (turun) dengan media tali, baik tali anyam maupun tali beban. Kegiatan ini juga bertujuan mengembangkan kekuatan fisik anak.
2. Meniti Titian Tali.
3. Bergelantung.
Bergelantung merupakan kegiatan mengayunkan diri pada palang sejajar atau besi palang tunggal atau alat panjat yang di ubah fungsinya sebagai palang gelantung. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengembangkan kekuatan fisik anak terutama kekuatan otot tangan.
4. Jalan Jongkok.
Jalan jongkok merupakan kegiatan berjalan dalam posisi berjongkok. Kegiatan ini juga bertujuan menguatkan kekuatan fisik terutama kekuatan kaki.
5. Melompat.
Kegiatan Melompat misalnya membuat permainan pohon alfabet/angka, games bisa dilakukan diluar ruangan. Kita gantungkan alfabet/angka di pohon dengan ketinggian variasi, anak kinestetis akan senang jika melompat-lompat berusaha untuk mencari huruf/angka yang tergantung dan mengumpulkannya sehingga membentuk satu suku kata.


E. MELATIH KOSENTRASI MELALUI KELENTURAN TUBUH.

Kelenturan terkait dengan keluwesan dan estetika dari gerakan-gerakan terencana dari manusia. Kelenturan juga meliputi kegiatan yang lentur, lancar dan tidak kaku, misalnya :
1. Demonstrasi Gerak.
Menari merupakan paduan gerakan badan (tangan, dan sebagainya) yang berirama, biasanya diiringi bunyi-bunyian (musik, gamelan, dan sebagainya). Menari juga bertujuan merangsang kemampuan gerak dan kelenturan tubuh.
2 .Menirukan Gerak.
Meniru Gerak merupakan kegiatan menirukan gerakan-gerakan luwes yang dilihat atau dipersepsikan. Kegiatan ini juga bertujuan merangsang kepekaan terhadap gerakan luwes yang bernilai estetis (indah).
3. Mencipta dan meluweskan Gerak.
Mencipta dan Meluweskan Gerak merupakan kegiatan membuat gerakan spontan dan meluweskan gerakan spontan tersebut.


F. MELATIH KOSENTRASI MELALUI KECEPATAN DAN KETANGKASAN GERAK.

Kecepatan dan ketangkasan gerak adalah latihan mematangkan gerakan sehingga dikuasai gerakan yang lancar, lincah, cepat, dan tangkas. Gerakan yang cepat dan tangkas muncul dari individu yang cerdas dalam kinestetik, misalnya :
1 . Berlari.
Berlari juga berfungsi menguatkan fisik anak dan merangsang ketangkasan dan kecekatan gerak motorik kasar. Kegiatan yang dapat dilakukan yaitu lomba berlari, kejar-kejaran, permainan sepak bola dan sebagainya.
2. Tangkis Tangan.
Menangkis disini dalam bentuk permainan bukan menangkis yang sesungguhnya. Misalnya, guru menunjukkan jari telunjuk yang berdiri, minta anak memegangnya dan secepatnya guru menghindar sehingga jari guru tidak terpegang.

Dan masih banyak lagi kegiatan menyenangkan yang dapat dilakukan, misalnya : berenang, memanjat, melatih kosentrasi melalui kepekaan sentuhan (Halus-Kasar, Basah-Kering, Panas-Dingin), dan sebagainya. Tetapi perlu kita ingat agar anak kinestetik tersebut tidak cepat bosan, kita tidak perlu memberi rentang waktu yang lama untuk setiap kegiatannya.

Sekian uraian tentang Pembelajaran Untuk Anak Kinestetik semoga bermanfaat.
dari dunakpaud.blogspot 

Tipe Anak Pembelajar Kinestetik

Seorang anak yang termasuk pembelajar kinestetik kadang disalahartikan sebagai ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). Anak-anak dengan tipe pembelajar kinestetik mudah stres ketika mereka hanya disuruh duduk diam, membaca dan mendengarkan di lingkungan kelas. Dan untuk meredakan stress yang mereka alami, mereka mungkin melakukan beberapa tindakan seperti berulang-ulang ke belakang, atau meraut pensil mereka di kelas. Sementara di kursi mereka, mereka mulai menggeliatkan kaki mereka, menggoyang-goyang atau bersandar di kursi mereka. Ketika perilaku ini tidak dapat diterima  guru atau pengasuh, mereka sering disalahartikan dengan gangguan perhatian.

Penting bagi kita untuk mengidentifikasi karakteristik umum dari pembelajar kinestetik dan menemukan metode pengajaran sesuai dengan gaya belajar anak. Dalam beberapa hal, semua anak adalah pembelajar kinestetik/fisik juga. Mereka ingin menyentuh dan membenamkan diri dalam kegiatan belajar dengan konsep dan ide-ide baru. Beberapa anak mungkin mengadopsi gaya belajar lainnya seiring berjalannya waktu, tetapi pembelajar kinestetik mempertahankan gaya belajarnya yang kuat. Mereka perlu dilibatkan dalam kegiatan belajar terbaik.



Pada dasarnya, anak dengan tipe pembelajar kinestetik memiliki karakter sebagai berikut:

–  Suka menyentuh, merasakan dan memegang sesuatu
–  Rentang perhatian pendek
–  Menyukai kegiatan yang membuatnya terus bergerak dan bekerja
–  Lebih memilih untuk menunjukkan daripada menjelaskan sesuatu
– Mereka dapat mempelajari sesuatu dengan tangan secara lebih baik, suka mencoba segala sesuatunya sendiri.

Membuat anak-anak duduk belajar di dalam lingkungan kelas akan sangat menantang. Meskipun anak-anak mungkin cenderung  tidak dominan kinestetik, namun kita akan melihat bahwa menjelajahi lingkungan di luar ruangan dan melakukan kegiatan prakarya adalah alat belajar yang terbaik untuk anak-anak. Kegiatan-kegiatan serupa untuk pembelajar kinestetik membantu karena membuat mereka bergerak dan anak-anak pun mampu menyentuh dan merasakan sesuatu saat mereka belajar.

Menjelajahi Pantai

Anak-anak suka pergi ke pantai untuk bermain pasir, ini membuatnya dapat menyentuh dan merasakan secara langsung hal-hal yang ia sukai. Anda dapat membangun istana pasir, dan pada saat yag sama anda dapat mengajarinya menulis di atas pasir. Memilih beberapa kerang; mengamati bentuk dan warna kerang. Bahkan kerang berwarna putih pun dapat disulap menjadi cantik dengan mewarnainya menggunakan cat air.

Menjelajahi Taman

Menjelajahi taman adalah cara terbaik untuk mengenalkan anak tentang tanaman dan pohon. Berjalan-jalan di sekitar taman dan menunjukkan kepada mereka berbagai bentuk pohon, mengumpulkan beberapa biji, mengamati buah-buahan,menyentuh daun, dan bau bunga-bunga. Kegiatan belajar seperti ini membantu anak untuk mempelajari ilmu biologi/botani yang diajarkan di sekolah dengan baik, sementara mungkin teman-temannya  berjuang dalam mengenali pohon dan bunga dari buku teks.

Membangun Model

Blok atau lego adalah mainan paling umum untuk anak-anak dari segala usia dan mereka selalu senang memainkannya. Mainan seperti itu sangat serbaguna dan mengilhami anak-anak untuk belajar dan menjadi kreatif. Tergantung pada usia anak-anak Anda, jika usia mereka lebih tua, Anda juga bisa membuat pesawat, dinosaurus atau hewan. Anda harus mempertimbangkan mainan ini sebagai salah satu investasi Anda dalam mengembangkan pembelajaran anak-anak Anda.

Berpartisipasi dalam drama dan memainkan peran

Dorong anak Anda untuk berpartisipasi dalam drama di sekolah. Mereka memiliki kesempatan untuk menggunakan tubuh dan gerakan untuk berekspresi. Ini adalah sarana belajar yang baik untuk anak kinestetik.

Melakukan kegiatan memasak

Melibatkan anak-anak dalam kegiatan memasak adalah pengalaman belajar yang besar bagi mereka. Menghabiskan waktu bersama ibu di dapur menambah pengetahuan mereka  tentang pengukuran volume (ketika ibu mengukur bahan-bahan yang digunakan untuk kue), memahami berbagai ukuran, bentuk dan benda tiga dimensi (dari peralatan dapur dan peralatan masak), mengenali suhu (pengaturan suhu pada oven) dan melatih keterampilan koordinasi tangan-mata. Ini adalah ide yang bagus untuk melibatkan mereka dalam memasak karena mereka menikmatinya sambil membantu Anda dalam salah satu pekerjaan rumah tangga sehari-hari.

Jika anak Anda adalah pembelajar kinestetik, buatlah ia terlibat dalam kegiatan belajar, karena ini adalah pilihan untuk metode belajarnya. Biarkan anak Anda senang dan berhentilah untuk memberinya label sebagai anak yang tak mau diatur/nakal.

sumber:bundapiaradaku dot wordpress

Sabtu, 16 Juli 2016

sitemap

sitemap

Kamis, 14 Juli 2016

Peran Kecerdasan Kinestetik Terhadap Kecerdasan Intelektual


Kecerdasan kinestetik akan mempunyai pengaruh kepada kecerdasan intelektual siswa apabila guru mempunyai keberanian menghilangkan cara-cara pengajaran yang konvensional.Karena dengan masih maraknya pengajaran konvensional, pengembangan potensi siswa akan kurang maksimal.Guru hanya mentransfer isi buku kepada siswa.Supaya siswa benar-benar berkembang kinestetiknya,aktivitas kelas diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan jasmaniah/kinestetik hendaknya mengandung berbagai kekuatan manipulatif dalam memecahkan masalah-masalah abstrak.Aktivitas yang memasukkan gerakan fisik, seperti:perjalanan lapangan, permainan peran/akting, pelatihan mandiri, kerja tim, baik dalam olah raga maupun permainan akan menstimulasi kecerdasan kinestetik.Aktivitas-aktivitas kelas memungkinkan siswa bisa mengembangkan dan mempraktikkan kecerdasan jasmaniah/kinestetik mereka.Seluruh kegiatan dalam pelajaran memberikan peluang untuk menggunakan dan mengekplorasi aneka gerakan dan menggunakan objek-objek fisik dalam pembelajaran mereka.


Salah satu aktivitas kelas yang memanfaatkan lingkungan sekitar siswa dan dapat meningkatkan kecerdasan kinestetik adalah dalam pembelajaran IPS, khususnya dalam memahami Peta Buta.Untuk lebih memahami peta buta, siswa dapat memanfaatkan barang-barang tak terpakai, yaitu koran bekas yang digunakan untuk membuat peta.Siswa akan menggunakan seluruh gerak tangannya untuk membentuk tumpukan koran yang sudah diproses menjadi bubur kemudian diubahnya menjadi peta-peta kecil sesuai materi siswa.Pembuatan peta dari koran bekas ini diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan intelektual siswa.

Dengan bekerja bersama, menggerakkan tubuhnya, siswa akan merasa gembira dalam belajar.Belajar dengan kegembiraan akan sangat membantu mengembangkan kecerdasan kinestetik.Kecerdasan kinestetik memberi ciri pada kemampuan untuk mengontrol dan menafsirkan aneka gerakan tubuhnya sendiri.Siswa yang menikmati olah raga dan aktivitas fisik, mempunyai pengertian yang bagus tentang arah dan menggerakkan tubuh mereka dengan pengertian ketepatan waktu yang tajam.Siswa yang kuat dalam kecerdasan jasmaniah/kinestetik mampu melakukan motorik kecil dengan baik dan bisa melakukan aktivitas-aktivitas seperti menyusun, memahat, membongkar, membuat sesuatu, dan mengumpulkan kembali dengan mudah.

Elemen dasar dari kecerdasan jasmani-kinestetik adalah kemampuan mengendalikan gerakan tubuh dan kemampuan memainkan obyek dengan terampil. Gardner menjelaskan bahwa kecerdasan ini juga meliputi ketangkasan. jitu, dan kemampuan melatih respons hingga menjadi gerak refleks. Anak dengan kendali motorik halus yang baik masuk dalam kategori cerdas kinestetik. Awalnya, kecerdasan ini dianggap remeh.

Ketika Gardner pertama kali menyematkan kata kecerdasanpada kemampuan jasmani, banyak orang yang terkejut. Namun perlahan-lahan, semakin banyak orang mengakui jenis kecerdasan kinestetik karena individu-individu yang menciptakan penemuan baru di bidang gerakan olahraga dan tari semakin sering dijumpai. Anak-anak dengan kecerdasan jasmani-kinestetik yang menonjol akan menyukai kegiatan-kegiatan fisik, dapat melakukan sesuatu dengan hanya melihat orang lain melakukannya, serta tidak bisa duduk diam dalam jangka waktu yang lama. Anak dengan kecerdasan kinestetik biasanya menonjol di bidang olahraga dan menari.



Ciri-cirinya:
- Belajar dengan melakukan sesuatu
- Lebih senang menyentuh dibandingkan sekadar melihat
- Suka mencari tahu cara kerja sesuatu
- Menyukai kegiatan luar ruang
- Tidak bisa duduk diam untuk waktu lama
- Punya energi fisik yang besar
- Atletis


Profesi yang cocok untuk anak yang memiliki kecerdasan kinestetik:
Atlet, aktor/aktris, penari, instruktur fisik, terapis fisik, mekanik, pemadam kebakaran, tentara, paramedis.

Kiat Belajar untuk Si Cerdas Kinestetik


Anak dengan kecerdasan kinestetik perlu bergerak untuk belajar. Anak-anak ini tidak bisa belajar dari sekadar mendengar atau melihat sesuatu-mereka perlu melakukannya. Hal berikut ini dapat membantu proses pembelajaran si cerdas kinestetik.


1. Mengunyah. Jika anak diperbolehkan mengunyah permen kenyal di kelas, mungkin hal itu bisa membuat dia lebih iama diam di tempat duduknya karena dia mulutnya bisa bergerak-gerak. Namun ajari anak untuk menutup mulut dan tidak mengeluarkan suara saat mengunyah agar tidak mengganggu teman sekelasnya.


2. Mewarnai. Anak bisa mewarnai buku catatan pelarajaran atau peta. Kegiatan itu membuat dia tetap sibuk beraktlvitas yang membuat dia lebih mudah menyerap pelajaran.


3. Mengetik. Dengan menggunakan komputer atau kalkulator, jari-jari anak selalu bekerja, Dia bisa bereksperimen dengan bentuk dan warna huruf berbeda saat mengetik di komputer supaya dia lebih terstimulasi.


4. Berjalan. Beberapa sekolah punya kelas khusus bagi anak dengan kecerdasan kinestetik. Di sela-sela pelajaran, mereka boleh berjalan-jalan mengitari ruang kelas. Jika si kecil sedang belajar di rumah, sesekali dia perlu rehat untuk berjalan-jalan sejenak.


5. Variasi media. Sekali lagi, si cerdas kinestetik belajar dengan optimal meialui tindakan. Aneka media peraga, seperti boneka tangan dan percobaan langsung di laboratorium, hingga aktivitas luar ruang seperti field trip dapat memenuhi kebutulian mereka. Diskusikan hal ini dengan pihak sekolah. 


6. Yo-yo. Mungkin terdengar aneh, tapi bagi sebagian anak dengan kecerdasan kinestetik, gerakan dan suara yoyo membuat mereka bisa menyerap informasi lebih baik.



Menurut Prof Howard Gardner, setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda dengan kadar pengembangan yang berbeda pula. Psikolog dari Harvard University ini mengembangkan model multiple intelligences. Ia membagi kecerdasan menjadi delapan macam kecerdasan, di antaranya kinestetik, yaitu kecerdasan fisik.

Kecerdasan kinestetik sejajar dengan tujuh kecerdasan lain, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logik matematik, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Apa maksud kecerdasan fisik atau kinestetik itu? Kecerdasan fisik (kinestetik) yaitu kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide, kekuatan, keterampilan dan mengekspresikan dirinya terkait dengan olah tubuh. Anak-anak kinestetik ini menyukai hal-hal berkaitan dengan gerak, seperti berolah raga, seni (pantomim, akting, koreografer), dan keterampilan tangan.

Tipe kinestetik anak, katanya, sudah bisa terlihat sejak usia empat tahun. Anak tersebut senang bergerak. Saat masuk ke bangku sekolah, gelagatnya lebih nyata. Anak kinestetik menyukai olahraga, lebih memilih ekstrakurikuler olahraga dibandingkan sains. Maksud bergerak di sini tentu saja bergerak yang masih terkendali, teratur, bukan gerakan asal-asalan dan tak bertujuan.

Keunggulan anak kinestetik, sangat cepat menghafal berkaitan dengan gerakan dan urutan. Menari, misalnya, membutuhkan gerakan yang berurutan, tidak asal gerak. Begitu pula olahraga. "Anak-anak termasuk kinestetik terlihat ketika menari sangat luwes, terampil, tidak kaku. Olahraga pun begitu, semangat, lincah, menguasai, dan lebih unggul dibandingkan yang lain."

Sayangnya, kelebihan anak kinestetik ini sering kali dibenamkan oleh orang tuanya. Banyak kalangan, termasuk orang tua menganggap, kecerdasan fisik urutan nomor sekian dibandingkan prestasi sekolah (akademik, red). Mahir di bidang olahraga atau seni tidak menjamin kehidupan yang layak. Makanya, banyak orang tua lebih bangga anaknya sukses di bidang sains dan bahasa dibandingkan bidang olahraga atau seni. Akibatnya anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik merasa kurang dihargai.

Selain itu, telanjur ada anggapan anak yang memiliki kecerdasan fisik pasti lemah di bidang akademik. "Anggapan itu tidak bisa dibenarkan." Sebab, kata dia, banyak juga anak yang memiliki kecerdasan fisik, mendapat nilai bagus pula pelajaran lainnya. Ini semua tergantung dari gaya belajar yang ditanamkan orang tua.

Mengaitkan gaya belajar
Kelebihan anak-anak kinestetik lebih cepat menghafal dengan olah tubuh. Karena itu, gaya belajar anak kinestetik harus dikaitkan dengan gerakan atau olah tubuh. Misalkan, bagaimana proses hujan turun, anak kinestetik jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan pasti cepat dicerna. Bisa juga tentang gaya tarik bumi dengan menjatuhkan bola basket dan contoh lainnya. Semua itu membutuhkan kreativitas dari orang tua.

Ada kelemahan dari anak kinestetik, yaitu cenderung tidak bisa diam dalam jangka waktu lama. "Maunya bergerak terus,". Namun, ia menyarankan orang tua agar tidak khawatir karena seiring perkembangan usianya, anak kinestetik bisa lebih tenang. Sebab, kinestetik ini bukan gangguan atau kekurangan dari seseorang melainkan salah satu cara kemampuan mengekpresikan diri.

Yang perlu diketahui, semua orang mempunyai kecerdasan kinestetik dengan level yang berbeda. Ada yang lebih dominan, tapi ada juga yang kecerdasan fisiknya tidak unggul dibandingkan kecerdasan lain.Jika anak Anda termasuk golongan kinestetik, berikan dukungan kepadanya. Orangtua juga dapat melengkapi kelebihan lain dikaitkan dengan kecerdasan fisik.

Info Kecerdasan Kinestetik

Mengidentifikasi kecerdasan kinestetik
Anak suka aktivitas yang melibatkan motorik halus dan kasar.

Kecerdasan kinestetik dan otak
Area kecerdasan kinestetik terletak pada cerebellum dan thalamus,ganglion utama dan bagian otak yang lain. Korteks motor otak mengendalikan gerakan tubuh. Orang-orang dengan kecerdasan ini menunjukkan keterampilan menggunakan jari atau motorik halus.

Perilaku kinestetik
Gemar mengulik, mencari tahu bagaimana cara kerja sesuatu. Tak memerlukan penjelasan orang lain atau membaca manual.

Kreativitas
Kecerdasan ini melahirkan olahragawan, ilmuwan, penulis, artis, musisi, penari, dan tenaga kreatif lain yang memungkinkan otak dan tangan mereka bergerak tanpa mengikuti format baku.

Reaksi masyarakat
Masyarakat kerap menganggap kinestetika sebagai hiperaktivitas ketimbang suatu kecerdasan. Akibatnya, kecerdasan ini jarang dihargai.

Melemahkan
Orang tua dan guru sering membatasi anak. Anak kreatif yang cerdas fisik membutuhkan kebebasan tanpa selalu mengikuti pola yang sudah dirancang. dirjournal.com

7 Cara Kembangkan Potensi Anak Kinestetik
  • Libatkan anak dalam kegiatan menarik, drama, olahraga.
  • Sediakan beragam permainan kreatif -lilin malam, tanah liat, blok-- untuk percobaannya.
  • Berjalan, melompat mendaki, main boling, tenis, atau bersepeda bersama.
  • Nikmati permainan seluncur, ayunan, dan kendara.
  • Berikan tugas seperti menyapu, menata meja makan, mengosongkan tempat sampah, membantu memasak, dan berkebun.
  • Libatkan dalam permainan fisik yang bersifat sosial seperti petak umpet, menebak kata dari gerakan tubuh.
  • Bermain menggunakan tubuh untuk mengekspresikan emosi seperti melompat-lompat bila gembira, mengerutkan kening bila marah.