LOGICO untuk pembelajar Kinestetik Mendapatkan Banyak Penghargaan Internasional

Logico, buku berkualitas yang telah mendapatkan banyak penghargaan internasional.

Manfaat Logico diantaranya adalah untuk menunjang pembelajar kinestetik

Increase The Processing Speed of Your Child Brain

Logico yang hadir di indonesia terdiri dari 3 jenjang

Logico Primo untuk jenjang usia 3-6 th, Logico Piccolo untuk 5-10th, Maximo untuk 8-12th

Maksimalkan Potensi Gemilang Buah Hati Dengan Logico

Ingin anak pintar, hadiahkan Logico untuk ulang tahunnya... Otak cemerlang,masa depan gemilang!

Ingin Anak Kinestetik Betah Belajar?

Siapkan Logico dan rasakan sensasi Belajarnya...

Rabu, 13 Juli 2016

Guru Harus Memahami Siswa Berkarakter Kinestetik

JAKARTA, KOMPAS.com - Para guru di Indonesia belum banyak memahami karakteristik psikologi anak. Mayoritas guru di sekolah lebih mengacu pada karakteristik visual dan auditorial, sehingga anak yang berkarakter kinestetik tidak terangkul secara maksimal dalam mencerna pelajaran.

"Guru-guru di Indonesia belum dikomunikasikan untuk menangani kriteria anak. Kasihan anak-anak, karena mereka itu kan memiliki karakteristik yang unik. Tidak fair jika kita menghadapi mereka dengan cara yang sama," ungkap Linda Saptadji, psikolog yang berkecimpung di Yayasan Anak Indonesia Suka Baca, di Jakarta, Kamis (28/6/2012).

Linda mengatakan, karakteristik anak memang menjadi tantangan bagi dunia pendidikan saat ini, khususnya anak-anak yang memiliki karakter kinestetik. Guru selalu menganggap mereka sebagai anak nakal karena banyak melakukan gerakan.

Linda melanjutkan, anak kinestetik memiliki problema dalam menangkap pelajaran. Mereka sulit untuk membaca.

"Masalah terbesarnya ada di sekolah. Tidak semua pelajaran memiliki sesi praktik, sehingga harus ada usaha lebih untuk bisa menerjemahhkan pengetahuan yang guru berikan dalam bentuk praktik," ungkap Linda.

Linda mengaku sangat menyayangkan, bahwa tidak semua ilmu di sekolah memberikan materi praktik. Akibatnya, anak-anak kinestetik belajar dengan cara-cara motorik. Bahkan, lanjut dia, anak kinestetik jika kebutuhannya tidak terakomodir akan melakukan cara-cara visual untuk bisa memahami masalahnya.

Pengaruh lingkungan

Linda menyarankan, ketiga unsur karakteristik anak harus dirangkum dalam metode mengajar. Pada dasarnya, setiap orang memiliki tiga unsur karakteristik, tetapi ada salah satu yang lebih menonjol.

"Karakter seseorang juga bisa berubah karena pengaruh lingkungan," ujar Linda.

Menurut Linda, guru-guru saat ini dituntut untuk berpikir out of the box. Guru juga diminta untuk mencari strategi baru dalam mengajar dan mendidik perkembangan anak-anak didiknya.

"Pendidikan kan berkembang, teori-teori pendidikan juga berkembang. Anak-anak pun berkembang, tantangan juga semakin banyak," tambah Linda.

Bagi Linda, mind mapping merupakan cara paling efektif untuk meningkatkan kualitas anak didik yang memiliki beragam karakteristik. Tony buzan, konsultan pendidikan melakukan sesuatu yang sangat luar biasa untuk dunia pendidikkan melalui metode mind mapping ini.

"Karena pada saat mapping terserah anak mau menulis apa dan mereka mempertanggungjawabkan apa yang mereka tulis," kata Linda.


Penulis : Alfiyyatur Rohmah

Anak Kinestetik? Jangan Terusik

 Ini adalah pengalamanku menghadapi sulungku. Dia anak yang banyak bergerak. Istilah yang beken dalam dunia pendidikan anak adalah " Kinestetik"

Saat berusia 2 tahun, ananda sudah mahir memanjat dengan ketinggian sekitar 2 meter. Dalam sehari bisa dilakukan 10 kali lebih karena aku tidak melarangnya konsekuensinya, aku harus mengawasinya. Mengapa aku tidak melarangnya? Pertimbanganku adalah, dia sedang belajar melatih motorik kasar. Memang hal itu membuat aku dan orang yang melihatnya " sport jantung" Tetapi kita sebagai orangtua tidak bisa meng "cut" begitu saja hanya karena rasa takut atau rasa malas membantu mereka belajar. Ku akui, kadang perasaan itu melanda namun rasa cinta dalam kesadaran bahwa orang tua berkewajiban mengolah fisik maupun mental meraka seolah lebih kuat. Dan alhamdulillah kami mampu membuat ananda berkata " Aku bisa " , " Aku mampu ". 

Melihat keenergikan ananda , aku mulai mempunyai "feeling" bahwa anak ini akan menghadapi sedikit masalah ketika nanti bersekolah. Mengapa ??? Satu, anak banyak gerak ( banyak tingkah) biasanya diberi label anak nakal. Dua, sekolah pada umumnya adalah lingkungan yang kurang mengakomodasi gaya belajar anak kinestetik ( kecuali sekolah alam ). Anak kinestetik mampu menyerap materi pelajaran dengan maximal melalui gerak atau dengan bergerak. Untuk level TK sebenarnya cukup terfasilitai.  Perlu di ketahui ada pula tipe anak yang bisa belajar dengan maksimal dengan mendengar ( tipe auditori ), melihat ( tipe visual ) ada juga dengan menyentuh ( taktil ). Atau kombinasi dari semua itu. Hal tersebut bisa dibaca lebih jelas di buku Quantum learning nya Bobbi Deporter& Mike Hermacki atau The Power of Learning Style karya Barbara Prashnig. 

Beberapa tahun kemudian ananda mulai memasuki fase baru, fase sekolah. Benar adanya " feeling" ku beberapa tahun yang lalu. Beberapa bulan setelah sekolah, Ibu guru memanggilku dengan keluhan bahwa anakku ( Salman ) masih susah membedakan beberapa huruf Hijaiyyah. Bu guru memintaku untuk membantu belajar di rumah.. Aku Sempat agak sewot Dalam benakku, aku jauh-jauh pindah dari Tangerang ke Bekasi demi mengejar sekolah bermutu untuk anak ku koq begini ? Sekolah Fullday, bukankah anak-anak lebih banyak di sekolah ? Lagipula, untuk memutuskan sekolah disitu saja aku harus memakai analisa "SWOT" ( Strenght, Weakness, Oportunity and Threat) , skala prioritas yang rumit, bla bala bla. Mengapa mengatasi masalah anak seperti itu harus meminta bantuan orang tua? Namun akhirnya aku menyadari, memang tugas guru tidak ringan, harus mengejar di "target" kurikulum..

 Aku tergerak untuk membuktikan. Karena atas izin Allah, sebelum sekolah pun aku sudah mampu mendeteksi akan adanya masalah tersebut. Mengapa aku tidak bisa mengatasinya ?? Aku terus menyemangati diriku. Alhamdulillah atas izin Allah muncullah ide ini: Aku membentuk dan menggunting satu suku kata atau satu kata dari huruf hijaiyyah dengan kertas warna-warni. Kemudian aku menempelnya, menyebar di sekitar kamar dan ruang tengah. Aku sengaja memasang agak tinggi dan agak rendah ada pula beberapa yg setara denga tinggi badan ananda . Melihat aku sibuk menggunting dan menempel , ananda nampak senang dan terus bertanya, ingin mengerti untuk apa huruf-huruf tersebut. Aku menjelaskan, mata cerdasnya berbinar-binar...indaaaah sekali. Dan dia pun ikut membantu menempel. Hatinya senang, gembira pertanda limbik otaknya sudah terbuka, siap untuk dituang ilmu atau belajar. 

The Brain is wider than Sky apabila limbik nya telah terbuka. Tentang " limbik " bisa di baca lebih detail di buku Revolusi IQ/EQ/SQ/ nya Taufiq Pasiak.atau silahkan search di Google.. Permainan dimulai : Aku meminta ananda untuk mencari beberapa suku kata dan huruf . Diapun sibuk mencari di sekeliling ruangan. Menengok , berjinjit, kadang naik ke kursi, kadang berlari kecil untuk mencarinya. Demikian seterusnya sampai beberapa hari dan ananda enjoy sekali dengan metode tersebut. Demikian lah permainan kami, belajar kami. Intinya aku menfasilitasi ananda untuk bisa tetap bergerak ( karena ananda tipe pembelajar kinestetik ) tapi tidak lupa memasuk kan " muatan" nya. Selain itu aku membuatkan gambar dari tanganku sendiri. Yang masih sangat kuingat gambar pohon, kucing duduk (tampak belakang ), ayunan , aneka buah , sayuran ( sawi ) dan lain-lain. Kemudian dibawah gambar-gambar tersebut aku menuliskan dalam huruf hijaiyyah . 

Mungkin ada yang berpikir, bukankah banyak gambar atau poster - poster bagus yang dijual di toko ?? Repot amat ?? Ya...memang kerepotan itu yang kucari  . Aku sengaja menciptakan kerepotan itu, menggambar dan mewarnai bersama ananda. Selain menyenangkan, hal tersebut menciptakan kedekatan dan isyaAllah energi cinta dan semangat sang ibu akan ter transfer ke anak. Gelombang otak bisa saling mempengaruhi. Subhanallah atas izin Allah beberapa minggu kemudian aku kembali mendapat panggilan dari sekolah. Ibu guru mengatakan bahwa perkembangan membaca huruf hijaiyyah anandaku sangat pesat. Tak perlu terusik menghadapi anank kinestetik . Dengan memahami gaya belajarnya, InsyaAllah masalah teratasi. 

Sebagai penutup, mengutip puisi yang indah... 
The Brain is wider than sky For put them side by side The one the other will contain With ease and You beside. 
The Brain is deeper than the ocean For hold them Blue to Blue The one the other will absorb As Sponge Buckets do The Brain is just the weight of God For Heft them Pound to Pound And they will differ if they do As Syllable from Sound -Emily Dickinson (1830-1886) 

Wassalam Bekasi, 2009
http://www.kompasiana.com/amadia/

Bocah dengan Kecerdasan Kinestetis Jangan Dilemahkan

REPUBLIKA.CO.ID, Kelebihan anak-anak kinestetik lebih cepat menghafal dengan olah tubuh. Karena itu gaya belajar anak kinestetik sebaiknya selalu dikaitkan dengan gerakan atau olah tubuh. 

Misal untuk memahami bagaimana proses hujan turun, anak kinestetik jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan, pasti cepat dicerna. Bisa juga tentang gaya tarik bumi dengan menjatuhkan bola basket dan contoh lainnya. Semua itu membutuhkan kreativitas dari orangtua.



Ada kelemahan dari anak kinestetik, yaitu cenderung tidak bisa diam dalam jangka waktu lama. Maunya bergerak terus. Namun, orangtua tidak perlu khawatir karena mereka anak normal dan seiring perkembangan usianya, anak kinestetik juga bisa lebih tenang seperti anak-anak lain.. 

Sebab, kinestetik ini bukan gangguan atau kekurangan dari seseorang melainkan salah satu cara kemampuan mengekpresikan diri.

Perlu diketahui, semua orang mempunyai kecerdasan kinestetik dengan level yang berbeda. Ada yang lebih dominan, tapi ada juga yang kecerdasan fisiknya tidak unggul dibandingkan kecerdasan lain.

Jika anak Anda termasuk golongan kinestetik, pakar menyarankan orang tua untuk memberikan dukungan kepada buah hati mereka. Orangtua juga dapat melengkapi kelebihan lain dikaitkan dengan kecerdasan fisik. 

Misalkan, agar anak pintar mengarang, orangtua bisa mengarahkan anak membuat tulisan mengenai tips basket. Pasti membuat anak semangat

Info Kecerdasan Kinestetik

Mengidentifikasi kecerdasan kinestetik
Anak suka aktivitas yang melibatkan motorik halus dan kasar.

Kecerdasan kinestetik dan otak
Area kecerdasan kinestetik terletak pada cerebellum dan thalamus, ganglion utama dan bagian otak yang lain. Korteks motor otak mengendalikan gerakan tubuh. Orang-orang dengan kecerdasan ini menunjukkan keterampilan menggunakan jari atau motorik halus.

Perilaku kinestetik
Gemar mengulik, mencari tahu bagaimana cara kerja sesuatu. Tak memerlukan penjelasan orang lain atau membaca manual.

Kreativitas
Kecerdasan ini melahirkan olahragawan, ilmuwan, penulis, artis, musisi, penari, dan tenaga kreatif lain yang memungkinkan otak dan tangan mereka bergerak tanpa mengikuti format baku.

Reaksi masyarakat
Masyarakat kerap menganggap kinestetika sebagai hiperaktivitas ketimbang suatu kecerdasan. Akibatnya, kecerdasan ini jarang dihargai. Padahal bila mereka diarahkan dan dikembangkan untuk membuka potensi tertinggi, bukan tidak mungkin akan terlahir, Lionel Messi, Tiger Wood, Michael Jordan atau Rafael Nadal masa depan


Melemahkan
Orangtua dan guru sering membatasi anak. Anak kreatif yang cerdas fisik membutuhkan kebebasan tanpa selalu mengikuti pola yang sudah dirancang.  dirjournal.com



Anak Kinestetik Bukan Anak Bodoh atau Anak Nakal

Mama Ferdi (6) meminta saya untuk mengajar privat anaknya. Pada saat saya datang, Mama Ferdi bercerita kepada saya bahwa Ferdi nilainya kurang baik dan sering dimarahi gurunya karena tidak bisa diam di dalam kelas. 

Setelah kurang lebih sebulan mengajar Ferdi, saya melihatnya. Ferdi memang tidak bisa diam, tetapi bukannya ia bodoh atau nakal. Ferdi hanyalah seorang pembelajar kinestetik. Ia belajar melalui stimulasi gerak, seperti saat ia mudah menghafal saat materi hafalan dibacakan dan ia meniru hafalan tersebut sembari melompat-lompat atau berlari-lari kecil.


Setelah mengetahui hal tersebut, saya bisa melihat bahwa Ferdi sebenarnya anak yang sangat cerdas. Hanya sayangnya, memang pembelajar kinestetis seperti Ferdi tidak umum diterima keberadaannya karena sistem sekolah pada umumnya lebih mendukung ransangan visual dan audio.

Tak heran anak-anak kinestetik ini seakan-akan menjadi anak tiri dalam sistem pendidikan karena dianggap anak ‘nakal’ yang tidak bisa diam. Padahal, hanya dengan memahami gaya belajar anak kinestetik, kita dapat membantu memaksimalkan potensinya tanpa harus merasa kesal.

Tiga Gaya Belajar

Menurut teori Neil D. Fleming yang saat ini telah dimanfaatkan secara luas, ada tiga gaya belajar, yaitu: visual, auditori, dan kinestetik. Beberapa orang dominan di salah satunya, namun ada pula yang dominan di dua gaya.

Mereka yang visual akan lebih mudah belajar melalui stimulasi terhadap sensor penglihatan atau mata, sedangkan sang auditoris mudah belajar melalui stimulasi pendengaran (telinga). Bagi anak kinestetik seperti Ferdi, otaknya bekerja maksimal saat mereka bergerak.

Karena itulah pembelajar kinestetis mudah menghafal jika badannya ikut bergerak, entah dengan menggerakkan mulutnya, menulis ulang hafalannya, atau seperti Ferdi, mendengarkan materi hafalan dengan berjingkrakan. Mereka juga dapat belajar cepat melalui game komputer edukatif yang mengundang anak untuk belajar dengan menggerakkan tangannya.

"Mereka Tidak Bodoh atau Nakal"

Anak kinestetik tidak bodoh atau nakal. Mereka hanya kurang dipahami dan memiliki energi fisik yang lebih banyak daripada anak lainnya. Jumlah anak kinestetik di dunia cukup banyak. Tingkat kesuksesan mereka di masa depan tidak kalah dari anak-anak lain, dan mereka tidak terkungkung hanya mungkin menjadi seorang atlet (walaupun mereka memang bibit atlet unggul). Kuncinya hanyalah pada pembelajaran efektif sehingga semakin dini mereka mengetahui cara belajar paling efektifnya, semakin rendah pula kemungkinan mereka mengalami tantangan psikologis di kemudian hari.

Anak kinestetik bisa dibantu dengan mengulang materi belajarnya melalui stimulasi gerak, entah dengan menulis ulang (yang mungkin cukup membosankan bagi anak kecil), mencoret-coret pemahamannya di atas kertas, atau menggunakan perangkat tertentu (misalnya belajar matematika dengan memindah-mindahkan kancing).

Untuk anak yang sudah lebih besar, Anda bisa mengenalkan gaya belajar mereka, sehingga mereka bisa mencari tahu sendiri, stimulasi gerak seperti apa yang mereka inginkan dan dapat dilakukan juga di dalam kelas (misalnya, memutar pensil atau menggerakkan kakinya). Jika diperbolehkan oleh sekolah dan gurunya, mengunyah permen karet terbukti efektif meredam anak-anak yang kelebihan energi.

Dan yang sama pentingnya adalah membantu anak kinestetik Anda untuk meminimalkan kelemahannya, yang biasanya ada pada pendeknya periode fokus/konsentrasinya. Mereka juga cenderung memiliki tenaga lebih sehingga jika tidak dikendalikan oleh dirinya sendiri, ia bisa menjadi penganggu proses pembelajaran majemuk.

Melatih fokus/konsentrasi bisa dilakukan melalui banyak hal, salah satunya adalah dengan bermain puzzle atau bertanding tentang sesuatu yang terkait konsentrasi (misalnya bermain game UNO Stacko atau lama-lamaan menahan buku di kepala).

Sedangkan melatih kendali diri salah satunya dapat dilakukan dengan disiplin dan meminta pengertian anak, misalnya bahwa ia akan mengganggu teman-temannya belajar jika ia terus-terusan mengetukkan kakinya di dalam kelas. Bisa juga dengan menyalurkan energi lebihnya ke aktivitas fisik di luar sekolah, misalnya ikut kursus bela diri, kursus musik, dan sejenisnya.

---------------

Ingatlah. Jika Anda melihat seorang anak yang tidak bisa diam (saat belajar), janganlah langsung melabeli anak tersebut dengan ucapan ‘nakal’ atau ‘bandel’. Mungkin ia hanyalah seorang pembelajar kinestetis cerdas yang penuh rasa ingin tahu.

GAYA BELAJAR KINESTETIK


Tipe Kinestetik adalah tipe gaya belajar yang cenderung mudah menerima dan mengolah informasi melalui serangkaian aktivitas yang menggerakkan sebagian / seluruh anggota tubuh dan mempraktekkan hal-hal yang dipelajari. Secara spesifik tipe gaya belajar ini dibagi lagi menjadi dua:

1.    Movement – Gerakan Badan

Mudah belajar dengan cara penyampaian melalui gerakan tubuh, berjalan-jalan, membolak-balik tubuh, bergoyang, terampil, dan cekatan.

2.     Touch – Gerakan Tangan

Mudah belajar dengan cara penyampaian melalui penggunaan jari, perabaan dan sentuhan tubuh. Kemampuan jari-jemarinya cekatan dan terampil sehingga mampu membuat kreasi tangan seperti clay dan desainer. Menari jenis tarian yang gemulai, menulis halus, dan hasil menggambarnya cukup teliti dan detil.


Ciri-ciri anak dengan tipe gaya belajar Kinestetik:
  • Menyukai kegiatan aktif baik sosial, kesenian, maupun olahraga. Sulit untuk duduk tenang, selalu ingin beregrak, dan memiliki koordinasi tubuh yang baik.
  • Gemar menyentuh semua yang dilihat dan ia kerap menggunakan gerakan/bahasa tubuh saat mengekspresikan diri/mengungkapkan emosinya saat itu.
  • Mencari perhatian lewat perhatian fisik seperti menyentuh orang lain dan suka mengerjakan sesuatu yang memungkinkan menggunakan tangannya secara aktif.
  • Jika ada mainan baru biasanya langsung ingin mencoba memainkannya.
  • Jika berkomunikasi sering menggunakan kata-kata yang mengandung aksi dan gemar memakai objek nyata untuk alat bantu belajar dan cenderung menggunakan jarinya untuk menunjuk kata-kata yang dibacanya.
  • Jika menghafal sesuatu biasanya sambil berjalan atau melihat objek secara langsung.
  • Mengunyah permen ketika mendengarkan penjelasan dari guru.
  • Menyukai buku dan film petualangan. Menyenangi metode bermain peran serta memiliki koordinasi mata dan tangan cukup baik sehingga mampu melakukan gerakan-gerakan dengan ritme cepat.


Kendala anak dengan tipe gaya belajar Kinestetik:
  • Cenderung tidak bisa diam dan sering dianggap nakal, pengganggu, dan usil.
  • Sulit mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, rumus-rumus, dan sebagainya).
  • Tak bisa belajar di sekolah-sekolah yang bergaya konvensional dimana guru menjelaskan dan anak duduk manis, tenang, dan diam.
  • Kapasitas energinya cukup tinggi sehingga bila tidak disalurkan dengan berbagai kegiatan fisik atau menggerakkan jari-jarinya maka akan berpengaruh terhadap konsentrasi belajarnya.


Cara Memaksimalkan Kemampuan Kinestetik

  • Sebagai langkah awal, anda hendaknya bersekolah  di sekolah yang menganut sistem active learning dimana siswa banyak terlibat dalam proses belajar. Hal ini agar kemampuannya berkembang secara optimal.
  • Belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai alat peraga, misalnya eksperimen di laboratorium.
  • Untuk siswa yang memiliki kapasitas energi berlebih, sebaiknya diberikan aktivitas fisik di rumah sebelum bersekolah. Misalnya mengikuti olahraga, membantu pekerjaan rumah seperti mencuci mobil, memebrsihkan rumah, atau mengerjakan sesuatu dengan jari-jarinya.
  • Di kelas dapat ikut beraktivitas bergerak seperti membersihkan papan tulis, membantu guru untuk membagikan buku-buku pelajaran.
  • Walaupun anda terkategori memiliki gaya Belajar Kinestetik, bukan berarti anda harus mengabaikan 2 gaya belajar yang lain.


Optimalkan Gaya Belajar Kinestetik Anda, dan coba tuk kembangkan gaya belajar yang lain. 

Selasa, 12 Juli 2016

Pembelajaran Anak Kinestetik (8)


Bagaimana cara menghadapi anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik, tetapi agak malas dalam menerima pelajaran, serta bagaimana cara melatih konsentrasi anak dengan gaya belajar kinestetik agar bisa lebih fokus dalam belajar akan kita bahas dalam uraian berikut.

Anak malas belajar merupakan dilema yang sering dihadapi orang tua dan para pendidik.

Berikut cara mendidik Anak Usia Dini sehingga dapat memotivasi anak agar semangat dan rajin belajar :
  1. Pertama-tama, sebaiknya mencari tahu terlebih dahulu penyebab anak malas belajar. Bukan berarti anak enggan belajar karena ia tidak pintar atau malas. Ada dua faktor penyebab anak malas belajar, pertama dari dalam dirinya belum ada motivasi untuk belajar. Hal itu disebabkan karena anak belum tahu manfaat belajar dan tujuannya untuk belajar. Tugas kita untuk memberi pemahaman mengenai pentingnya belajar. Selain itu, kelelahan fisik bisa menjadi faktor lainnya. Sedangkan faktor dari luar, bisa berupa minimnya sarana belajar seperti alat tulis atau meja belajar agar mereka dapat belajar dengan nyaman.
  2. Berkomunikasi dengan anak. Komunikasi bisa berupa motivasi pada anak dengan berbagai bentuk.
  3. Menciptakan lingkungan belajar yang positif. Suasana belajar yang menyenangkan juga menjadi syarat penting untuk membuat anak rajin belajar.
  4. Jeda waktu belajar. Belajar akan lebih efektif jika ada jeda waktunya. Misalnya dalam waktu 1 jam belajar, beri jeda waktu tiap 30 menit. Biarkan anak melakukan hal-hal yang bisa menghilangkan kejenuhannya. Anak hanya mampu berkonsentrasi penuh paling lama 20 menit. Selebihnya daya konsentrasi menurun.
  5. Kenali tipe belajar Kenali paling dominan saat anak belajar. Apakah itu tipe auditori, yaitu anak lebih menerima dengan cara mendengarkan, tipe visual di mana anak lebih cepat belajar dengan melihat, atau tipe kinestetik alias fisik. Anak yang belajar dengan metode kurang tepat hasilnya tidak akan maksimal.
  6. Sesekali memberinya hadiah atau sekadar memberi pujian dapat menjadi motivasi bagi anak agar semangat dan rajin belajar. Bisa juga dengan cara memberikan tepukan telapak tangan, ajungan jempol, menempelkan foto mereka yang sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik di album dinding yang telah disediakan (yang menempel anak-anak sendiri).


Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggunakan seluruh tubuh (fisik) untuk mengekspresikan ide dan perasaan serta keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu.

Kemampuan inti dari gaya belajar kinestetik bertumpu pada kemampuan yang tinggi untuk mengendalikan gerak tubuh (koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan) dan keterampilan yang tinggi untuk menangani benda (keterampilan tangan, koordinasi mata-tangan, kepekaan sentuhan).

Untuk dapat meningkatkan semangat belajar dan melatih kosentrasi anak dengan gaya belajar kinestetik agar dapat lebih fokus dalam pembelajaran, seorang guru sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut :

a. Mengoptimalkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media yang lebih menarik, menyenangkan, dan bervariasi agar dapat membuat anak berminat dan antusias terhadap proses pembelajaran tersebut.
b. Guru hendaknya melakukan pendekatan secara sosial emosional terhadap anak, agar anak berani berekspresi dalam kegiatan gerak dan lagu.
c. Materi yang diberikan kepada anak hendaklah sesuai dengan konteks kehidupan anak, yang mudah diingat oleh anak dan dapat dijadikan pedoman dalam perilakunya.
d. Dalam setiap pembelajaran kegiatan gerak dan lagu hendaknya guru tidak selalu memberi contoh agar anak bisa berkreasi dengan gerakannya sendiri sesuai imajinasi dan kemauannya sendiri.

Pembelajaran untuk anak kinestetik dapat dilakukan dengan cara mengajak anak-anak melakukan kegiatan atau permainan yang menarik dan menyenangkan, diantaranya :

A. MELATIH KOSENTRASI MELALUI KOORDINASI TUBUH.

Kegiatan ini didasarkan pada kemampuan anak dalam menyinkronkan berbagai gerakan, baik motorik kasar maupun motorik halus, misalnya :

1. Bersepeda dengan penghalang. 
"Bersepeda dengan penghalang" merupakan kegiatan mengendarai sepeda yang melibatkan koordinasi kaki-mata-tangan. Selain mengharuskan anak menfokuskan perhatian pada jalan dan penghalangnya sekaligus, kegiatan ini juga mengharuskan anak mengkoordinasikan gerak kaki-tangan dan kecermatan persepsi indrawi atau mata. Kegiatan yang dilakukan yaitu membimbing anak memedal dan menguasai setang sepeda agar dapat membuat gerakan mengelilingi rintangan-rintangan yang telah kita buat.
2. Menangkap Bola Memantul.
Menangkap Bola Memantul merupakan kegiatan menangkap bola pantulan yang dilakukan orang lain kepada anak. Kegiatan ini juga bertujuan merangsang kemampuan anak menangani benda-benda dengan koordinasi tubuh, terutama tangan dan mata. Kegiatan yang dilakukan yaitu mengajak anak-anak ke halaman membentuk sebuah lingkaran, kemudian guru yang berada di tengah lingkaran memantulkan bola kehadapan anak satu persatu dan beri kesempatan agar anak menangkap bola tersebut.
3. Lomba Mengancingkan.
Lomba Mengancingkan merupakan kegiatan mengaitkan kancing dengan lubang kancing. Kegiatan ini juga bertujuan mengasah kemampuan koordinasi tangan. Kegiatan yang dilakukan yaitu guru menyiapkan beberapa pakaian yang berkancing, dan memberikan contoh  bagaimana cara memasukkan dan mengeluarkan kancing. Setelah itu, membuat perlombaan siapa yang paling cepat melakukannya.

B. MELATIH KOSENTRASI MELALUI KESEIMBANGAN TUBUH.

Kemampuan ini dapat dirangsang dengan berbagai kegiatan yang didasarkan pada kemampuan tubuh untuk menyeimbangkan gaya dan rangsang, misalnya:

1. Berdiri di Atas Kaleng.
Berdiri di Atas Kaleng, merupakan kegiatan berdiri di atas kaleng dengan dua kaki selama beberapa saat. Kegiatan ini juga bertujuan mengembangkan keseimbangan tubuh anak yang bertumpu pada kaki. Kegiatan yang dilakukan yaitu guru menyiapkan susunan beberapa kaleng biskuit (berdiameter 30 cm dan tinggi 10 cm) yang diisi dengan pasir dan bimbing anak agar bisa melewati semua kaleng tersebut. Pertama-tama bisa dengan cara berjalan seperti biasa kemudian dengan melompat.

2. Berdiri Satu Kaki.
Berdiri Satu Kaki merupakan kegiatan berdiri dengan mengangkat salah satu kaki dan menjadikan satu kaki yang lain sebagai tumpuan kekuatan. Kegiatan ini juga bertujuan mengembangkan keseimbangan tubuh anak yang bertumpu pada satu kaki. Kegiatan yang dilakukan yaitu mengajak anak-anak bersama-sama menirukan gaya bangau berdiri dengan satu kaki (silangkan tangan di dada dengan jari menyentuh pundak), sambil ajak mereka berhitung. Anak yang paling lama berdiri, dialah yang berhak dijuluki Si Kuat. 

3. Membawa Kelereng.
Membawa Kelereng merupakan permainan membawa kelereng dalam wadah dari satu titik ketitik yang lain dengan media tertentu.

C. MELATIH KOSENTRASI MELALUI KETERAMPILAN.

Keterampilan sebagai kecakapan motorik halus pada anak dapat dirangsang dengan berbagai kegiatan yang menekankan kemampuan menangani benda-benda dan membuat bentuk tertentu, misalnya :

1. Kolase Kertas.
Kolase Kertas merupakan komposisi artistik yang dibuat dari berbagai bahan, baik kain perca, kertas maupun kayu.
2. Mencocok Gambar.
“Mencocok Gambar merupakan kegiatan memotong kertas dengan cara menusuk-nusuk pinggiran gambar (pada kertas) sehingga membentuk gambar tertentu. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengembangkan keterampilan tangan atau motorik halus anak.
3. Menebalkan dan Menyalin.
Menebalkan dan Menyalin merupakan kegiatan menandaskan garis pada gambar atau tulisan. Kegiatan ini juga bertujuan menguatkan kemampuan motorik halus anak atau mengembangkan keterampilan menggunakan tangan.
4. Meronce.
Meronce merupakan kegiatan merangkai benda, seperti bunga, manik-manik, dan potongan sedotan. Kegiatan ini juga bertujuan mengembangkan kemampuan atau keterampilan menggunakan tangan. Penekanan bukan pada pola, tetapi pada kemampuan merangkai.
5. Menata.
Menata merupakan kegiatan menempatkan suatu benda secara rapi dan sistematis. Kegiatan ini juga bertujuan mengembangkan kemampuan anak menangani benda dalam hal penyimpanan dan penempatannya.

D. MELATIH KOSENTRASI MELALUI KEKUATAN FISIK.

Anak-anak dengan fisik yang kuat cenderung tidak mudah terjatuh dan lelah pada saat melakukan aktifitas fisik. Rangsang kekuatan fisik harus dilakukan secara matang, tidak melebihi kapasitas beban anak dan dengan cara-cara yang menyenangkan, misalnya :

1. Panjat Tali.
Panjat Tali” merupakan bagian dari kegiatan memanjat (naik), menyeberang (melintas), dan menuruni (turun) dengan media tali, baik tali anyam maupun tali beban. Kegiatan ini juga bertujuan mengembangkan kekuatan fisik anak.
2. Meniti Titian Tali.
3. Bergelantung.
Bergelantung merupakan kegiatan mengayunkan diri pada palang sejajar atau besi palang tunggal atau alat panjat yang di ubah fungsinya sebagai palang gelantung. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengembangkan kekuatan fisik anak terutama kekuatan otot tangan.
4. Jalan Jongkok.
Jalan jongkok merupakan kegiatan berjalan dalam posisi berjongkok. Kegiatan ini juga bertujuan menguatkan kekuatan fisik terutama kekuatan kaki.
5. Melompat.
Kegiatan Melompat misalnya membuat permainan pohon alfabet/angka, games bisa dilakukan diluar ruangan. Kita gantungkan alfabet/angka di pohon dengan ketinggian variasi, anak kinestetis akan senang jika melompat-lompat berusaha untuk mencari huruf/angka yang tergantung dan mengumpulkannya sehingga membentuk satu suku kata.

Kelenturan terkait dengan keluwesan dan estetika dari gerakan-gerakan terencana dari manusia. Kelenturan juga meliputi kegiatan yang lentur, lancar dan tidak kaku, misalnya :
1. Demonstrasi Gerak.
Menari merupakan paduan gerakan badan (tangan, dan sebagainya) yang berirama, biasanya diiringi bunyi-bunyian (musik, gamelan, dan sebagainya). Menari juga bertujuan merangsang kemampuan gerak dan kelenturan tubuh.
2 .Menirukan Gerak.
Meniru Gerak merupakan kegiatan menirukan gerakan-gerakan luwes yang dilihat atau dipersepsikan. Kegiatan ini juga bertujuan merangsang kepekaan terhadap gerakan luwes yang bernilai estetis (indah).
3. Mencipta dan meluweskan Gerak.
Mencipta dan Meluweskan Gerak merupakan kegiatan membuat gerakan spontan dan meluweskan gerakan spontan tersebut.

F. MELATIH KOSENTRASI MELALUI KECEPATAN DAN KETANGKASAN GERAK.

Kecepatan dan ketangkasan gerak adalah latihan mematangkan gerakan sehingga dikuasai gerakan yang lancar, lincah, cepat, dan tangkas. Gerakan yang cepat dan tangkas muncul dari individu yang cerdas dalam kinestetik, misalnya :
1 . Berlari.
Berlari juga berfungsi menguatkan fisik anak dan merangsang ketangkasan dan kecekatan gerak motorik kasar. Kegiatan yang dapat dilakukan yaitu lomba berlari, kejar-kejaran, permainan sepak bola dan sebagainya.
2. Tangkis Tangan.
Menangkis disini dalam bentuk permainan bukan menangkis yang sesungguhnya. Misalnya, guru menunjukkan jari telunjuk yang berdiri, minta anak memegangnya dan secepatnya guru menghindar sehingga jari guru tidak terpegang.

Dan masih banyak lagi kegiatan menyenangkan yang dapat dilakukan, misalnya : berenang, memanjat, melatih kosentrasi melalui kepekaan sentuhan (Halus-Kasar, Basah-Kering, Panas-Dingin), dan sebagainya. Tetapi perlu kita ingat agar anak kinestetik tersebut tidak cepat bosan, kita tidak perlu memberi rentang waktu yang lama untuk setiap kegiatannya.

Sekian uraian tentang Pembelajaran Untuk Anak Kinestetik semoga bermanfaat. Aamiin.
oleh : dunakpaud

Kecerdasan Kinestetik Yang Kerap Diremehkan



Sabtu merupakan hari yang dinantikan Sheva (7 tahun). Ayah ibu telah menjadwalkan Sabtu sebagai hari olahraga keluarga. Sheva bersama adiknya, Dira (4), diajak lari-lari keliling stadion Senayan. Setelah itu, ayah mengajak Sheva bermain bola. Dira bersama ibu naik sepeda di sekitar lapangan.Kegemaran Sheva berolahraga tampak pula di sekolah. Selain jago basket dan sepak bola, beberapa kali ia meraih juara atletik mewakili sekolahnya. Beberapa bulan lalu, ia ingin masuk les sepak bola anak-anak. Tapi, Diana, ibu Sheva, menggelengkan kepala.

Alasannya, olahraga sekadar hobi, tak perlu pendalaman. Lebih baik Sheva mengikuti les pelajaran, membenahi prestasi akademisnya yang jeblok. ''Saya ingin Sheva kuliah di ekonomi supaya sukses secara finansial, bukan menjadi atlet yang masa masa depannya belum jelas," kata Diana.Benarkah anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik (kinestetik, red) tidak memiliki masa depan yang cerah?



Menurut Prof Howard Gardner : setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda dengan kadar pengembangan yang berbeda pula. Psikolog dari Harvard University ini mengembangkan model multiple intelligences. Ia membagi kecerdasan menjadi delapan macam kecerdasan, di antaranya kinestetik, yaitu kecerdasan fisik.

Kecerdasan kinestetik sejajar dengan tujuh kecerdasan lain, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logik matematik, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Apa maksud kecerdasan fisik atau kinestetik itu? Kecerdasan fisik (kinestetik.red) yaitu kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide, kekuatan, keterampilan dan mengekspresikan dirinya terkait dengan olah tubuh. Anak-anak kinestetik ini menyukai hal-hal berkaitan dengan gerak, seperti berolah raga, seni (pantomim, akting, koreografer), dan keterampilan tangan.

Tipe kinestetik anak, katanya, sudah bisa terlihat sejak usia empat tahun. Anak tersebut senang bergerak. Saat masuk ke bangku sekolah, gelagatnya lebih nyata. Anak kinestetik menyukai olahraga, lebih memilih ekstrakurikuler olahraga dibandingkan sains. Maksud bergerak di sini tentu saja bergerak yang masih terkendali, teratur, bukan gerakan asal-asalan dan tak bertujuan.

Keunggulan anak kinestetik, sangat cepat menghafal berkaitan dengan gerakan dan urutan. Menari, misalnya, membutuhkan gerakan yang berurutan, tidak asal gerak. Begitu pula olahraga. "Anak-anak termasuk kinestetik terlihat ketika menari sangat luwes, terampil, tidak kaku. Olahraga pun begitu, semangat, lincah, menguasai, dan lebih unggul dibandingkan yang lain."

Sayangnya, kelebihan anak kinestetik ini sering kali dibenamkan oleh orang tuanya. Banyak kalangan, termasuk orang tua menganggap, kecerdasan fisik urutan nomor sekian dibandingkan prestasi sekolah (akademik, red). Mahir di bidang olahraga atau seni tidak menjamin kehidupan yang layak. Makanya, banyak orang tua lebih bangga anaknya sukses di bidang sains dan bahasa dibandingkan bidang olahraga atau seni. Akibatnya anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik merasa kurang dihargai.

Selain itu, telanjur ada anggapan anak yang memiliki kecerdasan fisik pasti lemah di bidang akademik. "Anggapan itu tidak bisa dibenarkan." Sebab, kata dia, banyak juga anak yang memiliki kecerdasan fisik, mendapat nilai bagus pula pelajaran lainnya. Ini semua tergantung dari gaya belajar yang ditanamkan orang tua.

Mengaitkan gaya belajar
Kelebihan anak-anak kinestetik lebih cepat menghafal dengan olah tubuh. Karena itu, gaya belajar anak kinestetik harus dikaitkan dengan gerakan atau olah tubuh. Misalkan, bagaimana proses hujan turun, anak kinestetik jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan pasti cepat dicerna. Bisa juga tentang gaya tarik bumi dengan menjatuhkan bola basket dan contoh lainnya. Semua itu membutuhkan kreativitas dari orang tua.

Ada kelemahan dari anak kinestetik, yaitu cenderung tidak bisa diam dalam jangka waktu lama. "Maunya bergerak terus,". Namun, ia menyarankan orang tua agar tidak khawatir karena seiring perkembangan usianya, anak kinestetik bisa lebih tenang. Sebab, kinestetik ini bukan gangguan atau kekurangan dari seseorang melainkan salah satu cara kemampuan mengekpresikan diri.

Yang perlu diketahui, semua orang mempunyai kecerdasan kinestetik dengan level yang berbeda. Ada yang lebih dominan, tapi ada juga yang kecerdasan fisiknya tidak unggul dibandingkan kecerdasan lain.Jika anak Anda termasuk golongan kinestetik, berikan dukungan kepadanya. Orangtua juga dapat melengkapi kelebihan lain dikaitkan dengan kecerdasan fisik.


Info Kecerdasan Kinestetik

Mengidentifikasi kecerdasan kinestetik
Anak suka aktivitas yang melibatkan motorik halus dan kasar.

Kecerdasan kinestetik dan otak
Area kecerdasan kinestetik terletak pada cerebellum dan thalamus,ganglion utama dan bagian otak yang lain. Korteks motor otak mengendalikan gerakan tubuh. Orang-orang dengan kecerdasan ini menunjukkan keterampilan menggunakan jari atau motorik halus.

Perilaku kinestetik
Gemar mengulik, mencari tahu bagaimana cara kerja sesuatu. Tak memerlukan penjelasan orang lain atau membaca manual.

Kreativitas
Kecerdasan ini melahirkan olahragawan, ilmuwan, penulis, artis, musisi, penari, dan tenaga kreatif lain yang memungkinkan otak dan tangan mereka bergerak tanpa mengikuti format baku.

Reaksi masyarakat
Masyarakat kerap menganggap kinestetika sebagai hiperaktivitas ketimbang suatu kecerdasan. Akibatnya, kecerdasan ini jarang dihargai.

Melemahkan
Orang tua dan guru sering membatasi anak. Anak kreatif yang cerdas fisik membutuhkan kebebasan tanpa selalu mengikuti pola yang sudah dirancang. dirjournal.com


7 Cara Kembangkan Potensi Anak Kinestetik

Libatkan anak dalam kegiatan menarik, drama, olahraga.
Sediakan beragam permainan kreatif -lilin malam, tanah liat, blok-- untuk percobaannya.
Berjalan, melompat mendaki, main boling, tenis, atau bersepeda bersama.
Nikmati permainan seluncur, ayunan, dan kendara.
Berikan tugas seperti menyapu, menata meja makan, mengosongkan tempat sampah, membantu memasak, dan berkebun.
Libatkan dalam permainan fisik yang bersifat sosial seperti petak umpet, menebak kata dari gerakan tubuh.
Bermain menggunakan tubuh untuk mengekspresikan emosi seperti melompat-lompat bila gembira, mengerutkan kening bila marah.